Peristiwa Agregasi    Rabu, 09 Mei 2018 / 15:45 WIB

Trump Tarik Amerika Serikat dari Kesepakatan Nuklir Iran

WASHINGTON,KRjogja.com – Presiden Donald Trump telah menarik Amerika Serikat keluar dari perjanjian program nuklir antara Iran dengan kekuatan dunia yang disepakati pada 2015. Keluarnya Amerika Serikat dari perjanjian itu dinilai akan meningkatkan risiko konflik d kawasan Timur Tengah

Reuters, Rabu (9/5/2018) melaporkan, dalam pidato yang disiarkan di televisi, Trump menyatakan Amerika Serikat telah menarik diri dari perjanjian yang juga dikenal dengan nama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) itu dan akan kembali menerapkan sanksi ekonomi terhadap Teheran.Trump menyebut JCPOA sebagai "kesepakatan sepihak yang seharusnya tidak pernah dibuat".

Berdasarkan JCPOA, Amerika Serikat, Prancis, Rusia, China dan Uni Eropa sebagai penandatangan perjanjian itu setuju untuk mencabut sanksi terhadap Iran. Sebagai gantinya, Teheran akan membatasi program nuklirnya dan secara efektif mencegah Iran membuat senjata nuklir.

Tahun lalu, Badan Tenaga Atom Internasional, IAEA menyatakan Iran telah memenuhi kewajibannya menurut JCPOA. Namun, Trump mengeluhkan bahwa perjanjian yang disepakati oleh pendahulunya, Barack Obama tersebut tidak membahas mengenai program rudal balistik Iran, aktivitas nuklirnya pasca 2025, dan keterlibatan Iran dalam konflik di Suriah.

Keputusan Trump itu dinilai akan memperparah hubungan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Eropanya dalam Aliansi Transatlantik yang juga berperan sebagai penandatangan JCPOA. Bulan lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan melakukan kunjungan khusus ke Washington untuk membujuk Trump agar tetap berada dalam kesepakatan tersebut.

Sejumlah diplomat mengkritik keputusan Trump itu karena dianggap telah menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak peduli pada sekutu Eropanya. Menurut mereka, korban pertama dari sanksi terhadap Iran adalah negara-negara Eropa sekutu Amerika Serikat.

Dalam sebuah pernyataan bersama, para pemimpin Inggris, Jerman dan Perancis, yang menjadi penandatangan JCPOA bersama dengan China dan Rusia, mengatakan menyebabkan "penyesalan dan kekhawatiran."