Gaya Hidup Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 08 Mei 2018 / 10:07 WIB

Cegah Thalassemia, Kemenkes Gencarkan Skrining Dini

JAKARTA, KRJOGJA.com - Sekretraris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Asjikin Iman Hidayat Dachlan, MHA menggelar press briefing di Ruang 109 Kementerian Kesehatan dalam rangka memperingati Hari Thalassemia Sedunia 2018. 

Press briefing  juga dihadiri oleh Dr. dr. Pustika Amalia Wahidiyat, Sp.A(K) dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, perwakilan dari penyandang thalassemia dan perwakilan dari organisasi yang bergerak dalam kepedulian terhadap thalassemia. 

"Hari Thalasssemia Sedunia diperingati setiap tanggal 8 Mei. Tema peringatan Hari Thalassemia Sedunia tahun 2018 adalah 'Bersama untuk masa depan yang lebih baik'. Tema ini menegaskan bahwa jika semua pihak mau berkontribusi untuk pencegahan dan pengendalian Thalassemia maka akan memberikan masa depan yang lebih baik bagi penyandang thalassemia," kata dr Asjikin Iman Hidayat Dachlan.

Menurut Riskesdas 2007, kata Asjikin  8 provinsi dengan prevalensi lebih tinggi dari prevalensi nasional, antara lain Provinsi Aceh (13,4‰), DKI Jakara (12,3‰), Sumatera Selatan (5,4‰), Gorontalo (3,1‰), Kepulauan Riau (3,0‰), Nusa Tenggara Barat (2,6‰), Maluku (1,9‰), dan Papua Barat (2,2‰). 
Berdasarkan data YTI dan POPTI tahun 2014, dari hasil skrining pada masyarakat umum dari tahun 2008 – 2017, didapatkan pembawa sifat sebanyak 699 orang (5,8%)  dari 12.038 orang yang diperiksa;  sedangkan hasil skrining pada keluarga Thalassemia (ring 1) tahun 2009-2017 didapatkan sebanyak 1.184 orang (28,61%) dari 4.137 orang. Sedangkan berdasarkan data RSCM, sampai dengan bulan Oktober 2016 terdapat 9.131 pasien thalassemia yang terdaftar di seluruh Indonesia. 

Pembiayaan kesehatan untuk tatalaksana thalassemia menempati posisi ke 5 diantara penyakit tidak menular setelah penyakit jantung, kanker, ginjal, dan stroke sebesar 217 milyar rupiah di tahun 2014 menjadi 444  milyar rupiah di tahun 2015 menjadi 485 milyar rupiah di tahun 2016 dan menjadi 376 milyar rupiah sampai dengan bulan September 2017. 

"Penyakit thalassemia termasuk dalam beban biaya rawat inap tertinggi dalam Penyakit Tidak Menular. Jumlah kunjungan pasien Thalasssemia hingga September 2017 mencapai 420.393 orang," ungkap Asjikin.

Dia menjelaskan penyakit Thalassemia  belum bisa disembuhkan dan harus transfusi darah seumur hidup, tetapi dapat dicegah dengan mencegah pernikahan sesama pembawa sifat Thalassemia. Karena itu, deteksi dini sangat penting untuk mengetahui status seseorang apakah dia pembawa sifat atau tidak, karena pembawa sifat Thalassemia sama sekali tidak bergejala dan dapat beraktivitas selayaknya orang sehat. 

"Idealnya dilakukan sebelum memiliki keturunan yaitu dengan mengetahui  riwayat keluarga dengan thalassemia dan memeriksakan darah untuk mengetahui adanya pembawa sifat thalassemia sedini mungkin.  Hal ini harus di kampanyekan kepada masyarakat melalui berbagai media komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)," tandasnya.

Dalam rangkaian Hari Thalassemia Sedunia 2018, Kementerian Kesehatan telah menyelenggarakan Sosialisasi dan Skrining Thalassemia pada Anak Sekolah di Pandeglang dan Garut. Total murid yang diskrining sebanyak 240 orang dan akan melakukan Sosialisasi dan Skrining Thalassemia pada Anak Sekolah di Jakarta Barat pada bulan Mei in dan dilanjutkan dengan Sosialisasi Thalassemia untuk masyarakat awam serta promosi melalui media cetak dan elektronik. (Ati)