DIY Editor : Danar Widiyanto Rabu, 25 April 2018 / 07:10 WIB

Pemakaian Medsos Harus Dimaksimalkan Baznas

SLEMAN, KRJOGJA.com - Media sosial (medsos) bisa dipakai oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sebagai sarana mengajak umat Islam untuk ber-zakat infaq sodaqoh (ZIS). Karena dilihat dari segi konten maupun informasi yang disampaikan belum menyeluruh.

"Dari segi konten, baik itu di instagram atau facebook ketika menampilkan foto atau video maka tampilkan yang terbaik, tidak hanya sekedar asal memasang foto/video saja. Dan ketika ada informasi gunakan kalimat yang persuasif atau komunikatif, misal di akhir kalimat diberikan pertanyaan, maka audiensi akan tergerak memberi komentar atau menshare ke orang lain," kata Istyakara Muslichah SE MBA sebagai narasumber dalam Workshop dan Focus Group Discussion (FGD) "Strategi Komunikasi Pemasaran Lembaga Amil Zakat" di Hotel Sahid Jaya Babarsari, Selasa (24/04/2018).

Workshop  yang diikuti Baznas Kabupaten/Kota di DIY dan Kalimantan Timur serta Lembaga Amil Zakat (LAZ), merupakan kerjasama Baznas DIY dan Pusat Pengembangan Manajemen Fakultas Ekonomi UII. Dibuka Dekan FE UII Dr H Dwipraptono Agus Harjito MSi, menampilkan pula narasumber Drs Anas Hidayat MBA PhD.

Disampaikan Dekan FE UII Dr H Dwipraptono Agus Harjito MSi, Baznas, kita lihat perkembangannya tidak begitu cepat. Maksudnya, sudah berdiri lama, tetapi tidak ada akselerasi. Berbeda bila dibandingkan dengan Malaysia yang perkembangannya lebih cepat. Hal ini disebabkan konsen Pemerintah Malaysia lebih besar dibandingkan Indonesia. "Saat ini kita membayar zakat itu banyak alternatif, ada di kantor dan lainnya. Mestinya hal ini bisa digabung dengan Baznas, sehingga ke depannya lebih baik," katanya.

Terkait penyaluran, tutur Dwipraptono, seharusnya, penyaluran dana zakat ini untuk keperluan produktif. Memang ada yang diperuntukan bagi fakir miskin, tetapi usaha produktif harus dilakukan untuk pemberdayaan masyarakat. "Sehingga seperti modal berputar. Ini formatnya belum banyak," urainya.

Workshop dan FGD, diharapkan Ketua Baznas DIY Dr H Bambang Sutiyoso SH MHum, bisa membangkitkan semangat, terutama kepada amil dalam menjalankan tugas keamilannya. Terutama di dalam fundraising atau penghimpunan zakat. Sebenarnya potensi ZIS itu sangat besar di DIY, hanya saja memang belum tergarap dengan baik.

"Saat ini kesadaran pembayar zakat relatif rendah, karena selama ini untuk para aghniya (orang-orang kaya)  memandang zakat sebagai sesuatu hal yang sifatnya sukarela. Padahal zakat itu merupakan Rukun Islam yang ketiga, mestinya adalah ditegakkan seperti Rukun Islam yang lain. Orang mungkin dengan mudah naik haji yang biayanya sangat besar. Tetapi untuk mengeluarkan zakat masih agak berat. Padahal zakat itu kadarnya sangat rendah, hanya 2,5 persen dari penghasilan," tambah Bambang. (Wid)