Pendidikan Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 09 April 2018 / 00:40 WIB

Kampus Harus Siapkan Kurikulum Hadapi Era 4.0

MAKASSAR, KRJOGJA.com - Era Industri 4.0 akan terus memunculkan teknologi baru yang melahirkan lompatan-lompatan inovatif. Dari satu sisi bisa mengembangkan berbagai produk-produk peradaban baru yang cepat dan canggih, namun di sisi lain juga bisa menimbulkan gangguan pada 'existing industry' dan lapangan kerja. 

"Tentu kita tidak ingin jadi korban perubahan tersebut. Dengan sumberdaya yang dimiliki, kampus bisa memberikan masukan tentang desain menghadapi perubahan tersebut. Tentu saja secara internal. Kampus juga perlu mendesain kurikulumnya sendiri yang menyiapkan mahasiswanya menghadapi era 4.0 ini," tutur Ketua Bidang Penjaminan Mutu dan Kerja Sama Internasional Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc dalam Rakornas Perguruan Tinggi Muhammadiyah wilayah Indonesia Timur di kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, Sabtu (7/4).

Menurutnya, berbagai dampak yang bisa bersifat disruptif dari inovasi teknologi yang pasti muncul ini harus diantisipasi. "Bagaimana antisipasinya? Kampus menjadi tumpuan untuk memberikan jawaban dengan kajian-kajian atau riset yang dilakukannya," ujar ungkap mantan Ketua Umum Pusat Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia(Aptisi).

Edy menemukakan, dunia pendidikan tinggi harus berjalan di depan dalam memasuki era industri keempat atau industri 4.0. Pemikiran inovatif dan alternatif menghadapi dampak Industri 4.0 seharusnya sudah menjadi fokus kajian yang rutin di kampus. Ini bukan saja dimaksudkan untuk memberikan bekal pada anak didiknya agar lulusannya dan masyarakat tidak gagap memasuki era Industri 4.0 , namun yang lebih utama adalah memberikaan pemikiran kontributif dan mencerahkan bagi masyarakat secara keseluruhan. 

Edy Suandi mengemukakan selain ancaman pengangguran ada lebih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam kaitannya dengan disrupsi. Pertama, arus teknologi sangat cepat dalam era disrupsi. Banyak kesempatan di mana teknologi akan menggantikan manusia. 

Dalam sektor industri seperti manufaktur, telah banyak pabrik yang menggunakan tenaga mesin untuk menjamin efisiensi. Teknologi tersebut juga sangat mudah untuk berpindah dan berkembang. Artinya, pasar sangat bebas memasukkan teknologi ke dalam industri. (Fsy)