DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 07 April 2018 / 14:53 WIB

19,8 Persen Anak di DIY Stunting

YOGYA, KRJOGJA.com - Meski angka persentasenya di bawah yang ditetapkan WHO, jumlah anak penyandang stunting di DIY masih cukup besar. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan. Karena itu diperlukan berbagai tindakan, baik untuk mengantisipasi maupun menangani anak-anak stunting.

”Angka yang ditetapkan WHO adalah 20 persen. Sedang di DIY angkanya 19,8 persen. Meski begitu bukan berarti tidak mengkhawatirkan,” kata Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan DIY, Endang Pramusiwi.

Indonesia sendiri, menurut WHO berada di urutan kelima jumlah anak dengan kondisi stunting. Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi.

Akibatnya, pertumbuhan tubuhnya terhambat. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Menurut Endang, stunting diakibatkan kurangnya asupan gizi dalam jangka panjang, baik oleh bayi itu sendiri maupun ibunya.

Terkait dengan ibunya, bukan hanya karena kurangnya asupan gizi saat hamil, tetapi jauh hari sebelumnya sejak masa remaja. Hal ini bisa karena kondisi ekonominya lemah atau karena gaya hidupnya.

”Misalnya, seorang remaja agar terlihat langsing lantas diet berlebihan, nantinya bisa menyebabkan anaknya stunting. Ini masih banyak yang belum menyadari,” jelasnya.

Lebih dari itu, semua ibu hamil juga harus diperhatikan asupan gizinya. Untuk itu harus diperiksakan secara rutin. Pemeriksaan di pelayanan kesehatan terdekat, baik mengenai tensi maupun HB dan jika ada indikasi tak baik akan segera diintervensi.

Selama hamil juga diharuskan meminum 90 tablet FE, sehingga tidak mengalami anemia serta mendapatkan gizi yang cukup. Karena kalau kekurangan gizi akan mengganggu organ tubuh si jabang bayi.

Sedang saat bayi lahir akan diperiksa dan diukur untuk mengetahui apakah di kemudian hari akan berisiko atau tidak. Jika beratnya di atas 2.500 gram dan panjangnya 48 cm, maka diyakini akan normal.

Namun begitu, selanjutnya juga harus diperhatikan. Misalnya selama 6 bulan hanya diberi ASI eksklusif dan setelah 6 bulan diberi makanan pendamping ASI. Sedang pemberian ASI sendiri sampai usia 2 tahun.

Selama balita juga harus rutin diperiksakan di Posyandu. Dijelaskan, anak yang stunting aktivitasnya memang biasa-biasa saja, namun ukuran fisiknya di bawah normal. Kadang-kadang ada yang pintar, tetapi kebanyakan IQ-nya di bawah normal. Selain itu juga mempunyai risiko menderita penyakit tak menular, misalnya diabetes, jantung atau gagal ginjal.

”Untuk mengantisipasi anak stunting harus ada pencegahan dari awal, misalnya sejak calon ibu masih remaja. Kualitas hidupnya juga harus diperbaiki. Bagi para ibu harus memperhatikan asupan gizi balitanya. Jangan sampai untuk menyumbang orang punya hajat lebih diprioritaskan dari pada gizi anaknya. Sedang terhadap anak yang sudah stunting harus ada intervensi dan ada perlakuan khusus,” tegasnya. (Fie)