Gaya Hidup Editor : Agung Purwandono Jumat, 17 Juni 2016 / 22:17 WIB

JSK, Membuat Sakit Tak Jadi Beban

WINA terpaku. Ia tidak menyangka kalau harus mengeluarkan uang cukup banyak, Rp 700.000 bukanlah sedikit. Bukan menyesal, karena untuk anak. “Tapi saya tidak menyangka. Tadi tawaran imunisasinya hanyalah dengan kalimat : mau yang membuat anak demam atau yang tidak?” ungkapnya.

Melahirkan di sebuah klinik swasta dengan beaya yang cukup murah dalam pemikirannya, membuat Wina memutuskan untuk ‘menyerahkan’ perawatan kesehatan anak langsung ke klinik tersebut. Karyawan perusahaan finance ini tidak mengira, ternyata untuk kebutuhan anak-anak beayanya cukup lumayan besar. Ketika bayinya batuk dan demam, juga membuatnya kembali merogoh dompet dalam jumlah yang lumayan. “Saya dan suami yang sama-sama bekerja di sektor swasta memang telah mengikuti program pemerintah. Tapi ini ternyata tidak otomastis mengcover anak,” ungkapnya.

Sementara Andin harus berpindah ke dokter internis yang praktik swasta, ketika sampai bulan keenam batuk yang dideritanya tidak sembuh. “Karena hanya batuk, saya tidak bisa meminta rujukan dari fasilitas kesehatan (faskes) pertama di puskesmas. Tapi obat yang diberikan tak kunjung membuatnya sembuh. Setelah pindah dokter, batuknya langsung berhenti,” paparnya. Namun untuk itu, ujarnya, saya juga harus membuka dompet sendiri alias membayar.

Sebagai karyawan perusahaan swasta yang sudah diikutsertakan dalam program asuransi yang juga dipotong gajinya setiap bulan, sesungguhnya Andin cukup merasa tenang. Problema kesehatan sudah cukup teratasi dengan program pemerintah tersebut. Namun saya tidak mengira, ujarnya, kalau kemudian mengalami kejadiannya seperti ini.

***
Biaya rawat jalan, sering tidak terduga angkanya. Padahal si sakit ketika ditanya, kalau bisa mengikuti rawat jalan daripada harus rawat inap. Dan di tengah pro-kontra terhadap keberadaan program BPJS, problema rawat jalan menjadi hal krusial bagi masyarakat. Apalagi asuransi pada umumnya, tidak mengcover biaya rawat jalan.

Menariknya, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dirilis 2014 mengungkap bahwa masyarakat DIY ini tertinggi memanfaatkan rawat jalan dibanding warga Indonesia di provinsi lain, mencapai 16,3% dengan rerata beaya Rp 35.000. Angka ini jauh lebih tinggi daripada angka rerata di Indonesia yang hanya 10,4%. Namun yang tidak kalah menarik di DIY ini rerata rawat inap juga tertinggi di Indonesia dalam setahun terakhir, mencapai 4,4% dengan rerata beaya Rp 2.000.000.

Angka ini juga jauh lebih tinggi dari rerata nasional yang hanya 2,3% dengan rerata beaya Rp 1.700.000.
Dan adalah sebuah fakta bahwa untuk rawat jalan data Riskesdas 2013 menyebut, sumber pembiayaan berasal dari out of pocket (67.9%). Kemudian jaminan kesehatan pemerintah meliputi Jamkesmas, Jamkesda, Jamsostek, Askes/Asabri (25,2%), lainnya (3,3%), tunjangan perusahaan (1,8%). Selanjutnya dari lebih dari 1 sumber (1,1%), sedangkan asuransi swasta hanya 0.7%.

Jika antara tingginya angka rawat jalan di DIY dengan sumber pembiayaan itu menurut ekonom UII Dr Nurferiyanto menunjukkan bahwa bahwa kesadaran masyarakat DIY untuk menjaga kesehatannya termasuk tinggi. Hal ini didukung fasilitas dan pelayanan kesehatan yang baik mulai dari puskesmas, rumahsakit, dokter dan obat-obatan. “Harus membayar sendiri pun mereka siap untuk menjaga kesehatannya,” ungkap Nurferiyanto.

Rawat jalan yang tinggi mendukung statemen saya bahwa sebelum sakit, ujar Nurferiyanto, mereka sudah memeriksakan diri. Sehingga tidak perlu menginap karena belum sakit. Namun ketika sakit menurutnya mereka sadar untuk segera berobat. “Karena angka harapan hidup di DIY tinggi, kalau tidak salah di angka 74,2 tahun maka sesungguhnya juga terdapat peluang bisnis bagi pelayanan lansia di provinsi ini,” ungkap Nurferiyanto.
***
Besarnya beaya rawat jalan dan sebagian pembeayaan juga bersumber dari kantung sendiri, menunjukkan masih tingginya beaya yang harus ditanggung masyarakat untuk kebutuhan kesehatan. Dan sesungguhnya apa yang terjadi ini merupakan peluang dan potensi besar bagi asuransi swasta untuk berperan membantu masyarakat. Sehingga saat saat dan menjalani rawat jalan tetap bisa tersenyum dan membuat sakit tidak lagi menjadi beban.

Realita inilah ungkap CEO PT Central Asia Financial Reginald J Hamdani yang memiliki produk Asuransi Jagadiri merancang program Jaga Sehat Keluarga (JSK). Produk ini memberikan solusi kebutuhan utama masyarakat akan asuransi perlindungan keluarga yang lengkap, terjangkau dan dapat digunakan termasuk untuk rawat jalan.

Memang belum banyak yang mengenal produk yang disebut memberikan perlindungan yang tidak membebani masyarakat. Wina dan Andin mengaku belum pernah mendengar produk yang memungkinkan nasabah cukup membayar satu harga dan sudah mengcover maksimal lima tertanggung : suami-istri-tiga anak. Tapi bukan berarti mereka tidak mengetahui soal asuransi. Hanya produk baru ini diakui belum mereka kenal.

Pengetahuan masyarakat mengenai asuransi memang sudah ada. Namun data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2013 mengungkap bahwa 17,84% atau 18 orang dari 100 penduduk Indonesia yang mengerti manfaat asuransi. Tapi, baru 11,81% atau 12 dari 100 orang yang membeli polis. Padahal dalam dunia perasuransian, yang disebut belum cerdas berasuransi di sini diartikan sebagai ketidakmampuan masyarakat memroteksi keluarga melalui asuransi yang memiliki banyak manfaat. Seperti JSK ungkap Reginald juga memberikan pengembalian premi sebesar 25% per tahun apabila tidak ada klaim. Manfaat yang perlu dipahami. (Fadmi Sustiwi)