Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 31 Januari 2018 / 11:41 WIB

BAROMETER BISNIS OBG

Iklim Bisnis Indonesia Melesat, Waspadai Risiko Eksternal

JAKARTA, KRJOGJA.com - Sebagian besar pembuat keputusan yang diwawancarai oleh OBG dalam edisi terbaru Business Barometer: Indonesia CEO Survey yang dirilis oleh Oxford Business Group (OBG) meyakini bahwa iklim berbisnis di Indonesia dalam kurun waktu 2 tahun terakhir telah mengalami peningkatan yang sangat baik. 

Masih terdapat kekhawatiran terhadap adanya risiko eksternal. Dalam survei ini, OBG sebagai perusahaan riset dan konsultasi global memberikan sejumlah pertanyaan kepada puluhan eksekutif kelas atas (CEO, COO, CFO, dan setara) dari berbagai industri di Indonesia. 

Thano Tanubrata selaku CEO BDO Indonesia mengatakan bahwa pengembangan infrastruktur yang kuat serta inisiatif pemerintah dalam menciptakan ekonomi terbuka telah mampu menjaga sentimen dan iklim berbisnis Indonesia tetap positif. Hal ini juga terlihat dari jawaban responden dalam survei ini .

"Meskipun banyak yang khawatir terhadap risiko eksternal, masih ada optimisme bahwa sentimen bisnis akan tetap positif. Menjelang Pemda 2018, perekonomian lokal juga diprediksi akan meningkat dengan munculnya kesempatan mikro dan makro yang baru," ujar Tanubrata.

Survei ini dilakukan secara tatap muka dalam rangka mengukur sentimen berbisnis di Indonesia.  Hasilnya, dua pertiga (64%) responden menyatakan bahwa saat ini berbisnis di Indonesia lebih mudah dibandingkan dengan dua tahun yang lalu. Bahkan, sebagian besar (76%) responden memberikan penilaian yang positif atau sangat positif terhadap kondisi bisnis di Indonesia tahun ini.

Penilaian ini mengalami penurunan dibandingkan dengan survei OBG pertama yang dirilis bulan Mei 2017 lalu, dimana 92% responden menilai positif atau sangat positif. Sejumlah isu dalam negeri seperti ketidakpastian politik dinilai telah menurunkan sentimen bisnis dalam beberapa bulan terakhir, namun para responden jauh lebih mengkhawatirkan risiko eksternal dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri. 

Berdasarkan hasil survei, 38% responden menyatakan bahwa terjadinya pergeseran permintaan dari Cina akan memberikan dampak yang besar terhadap perekonomian Indonesia secara jangka pendek maupun menengah, sedangkan 23% lainnya mengkhawatirkan kemunculan trade protectionism (kebijakan proteksionisme perdagangan).

Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa 43% responden sangat khawatir dengan kurangnya tenaga kerja terampil di Indonesia. Berdasarkan jawaban para responden, 37% menyatakan bahwa keterampilah leadership merupakan yang paling dicari-cari. Sedangkan 20% lainnya menyatakan bahwa keterampilan engineering juga sama pentingnya. 

Jawaban yang muncul diprediksi karena saat ini pemerintah sedang gencar membangun infrastruktur dalam negeri.  Para responden juga menyebutkan bahwa keterampilan informasi teknologi (16%) dan research & development (11%) juga sangat dibutuhkan. (*)