Jateng Editor : Danar Widiyanto Jumat, 12 Januari 2018 / 15:01 WIB

PASAR GEDHE TEMBUS SEBELAS WINDU

Posisikan Destinasi Lawan Persaingan Global

SOLO, KRJOGJA.com - Memasuki usia delapan windu, komunitas pedagang Pasar Gedhe berobsesi untuk memposisikan diri menjadi destinasi, selain pula pusat transaksi dagang gaya pasar tradisional klasik. Pasalnya, posisi destinasi dinilai sebagai strategi paling ampuh menghadapi persaingan perdagangan global yang kian ketat, serta didukung teknologi informasi nyaris tak terbendung.

Jika pasar tradisional hanya mengandalkan transaksi dagang kebutuhan sehari-hari, ungkap Koordinator Komunitas Paguyuban Pasar Gedhe (Komppag), Wiharto, menjawab wartawan di sela wilujengan 88 tahun Pasar Gedhe, Jumat (12/1/2018), cepat atau lambat akan tergerus kemajuan zaman, atau setidaknya stagnan. Harus ada daya pikat lain di luar transaksi dagang agar masyarakat mengunjungi pasar tradisional, dalam hal ini sebagai destinasi. Seperti halnya prosesi peringatan 88 tahun Pasar Gedhe yang menyuguhkan umbul donga, arak-arakan 88 tumpeng, serta agenda budaya pendukung lain, diarahkan sebagai bentuk penguatan destinasi tersebut.

Dalam beberapa waktu terakhir, kalangan pedagang Pasar Gedhe mulai melakukan penguatan destinasi, baik dalam rupa fisik komoditas dagangan yang terkait dengan dunia wisata, maupun pola layanan yang merujuk pada tradisi pasar zaman kuna. "Varian komoditas mulai terlihat dengan kemunculan pedagang oleh-oleh khas Solo, pernak pernik cinderamata, kuliner tradisional, dan sebagainya," ujar Wiharto sembari menyebut, arus kunjungan pun cenderung meningkat, termasuk kalangan wisatawan manca negara.

Karenanya, Wiharto optimistis, Pasar Gedhe akan tetap eksis di zaman now, dengan tetap mempertahankan diri sebagai pasar kuna, termasuk menghadapi perdagangan on line yang kini tengah booming. Kondisi Sumber Daya Manusia (SDM) di kalangan pedagang yang sebagian telah berusia lanjut, menurut Wiharto, kadang memang menjadi kendala tersendiri untuk mengembangkan pasar terutama dalam hal yang terkait dengan teknologi informasi, namun di sisi lain juga dapat didayagunakan sebagai daya pikat destinasi.

Sementara Kepala Dinas Perdagangan, Subagyo, terpisah mengungkapkan, gempuran persaingan dalam era perdagangan global memang menjadi tantangan tersendiri. Namun Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tetap berkomitmen mengembangkan pasar tradisional, diantaranya dengan merevitalisasi bangunan fisik agar lebih bersih dan nyaman, pendampingan kepada pedagang, promosi, penerapan sistem elektronik dalam penarikan retribusi, selain pula penguatan aspek budaya.

Dari 44 unit pasar tradisional di Solo, menurutnya, dari sisi fisik bangunan tinggal menyisakan empat unit pasar tradisional yang hingga kini belum terjamah revitalisasi, dan diproyeksikandapat dituntaskan hingga dua tahun ke depan. Demikian pula layanan penarikan retribusi secara elektronik (e-retribusi) yang saat ini baru meliputi 13 unit pasar tradisional, tahun 2018 ini dapat menjangkau seluruh pasar.(Hut)