KOLOM Editor : Ivan Aditya Sabtu, 30 Desember 2017 / 11:25 WIB

Selebrasi Islam Cinta Damai

BANSER ikut mengamankan Natal. Puluhan ribu Umat Islam menggelar Aksi 1712 Bela Palestina yang berlangsung damai di Kawasan Monas Jakarta, Minggu (17/12). Itulah dua berita yang dilansir media baru-baru ini. Dua berita tersebut layak dicatat sebagai momentum selebrasi Islam cinta damai. Yakni Islam yang rahmatan lil-alamin. Bukan Islam yang dicitrakan agitatif atau gemar perang dan menebar kebencian yang menakutkan masyarakat luas.

Di era global ini, peristiwa seperti aksi yang diikuti banyak massa bisa langsung disaksikan oleh masyarakat di seluruh pelosok dunia. Karena itu, masyarakat luas sempat khawatir, karena di dalam benaknya terbayang aksi-aksi besar yang pernah berlangsung di Libya, Suriah dan Yaman yang ternyata memicu perang saudara.

Dengan adanya aksi-aksi yang berlangsung damai, bangsa dan negara kita ternyata memang sangat berbeda dengan bangsa dan negara yang hancur oleh perang saudara yang diawali dengan aksi-aksi agitatif dan anarkhis. Karena itu, kalau misalnya aksi damai yang lebih besar digelar lagi pasti akan lebih elegan dan menjadi momentum spektakuler selebrasi Islam cinta damai.

Membawa Berkah

Sejak dulu, selebrasi Islam cinta damai di negeri ini terus menerus dihiasi dengan tradisitradisi religius yang humanistik. Misalnya, tradisi tahlilan dan pengajian yang digelar banyak warga Nahdlatul Ulama (NU) selalu berlangsung damai.

Sebagai ikhtiar meneguhkan Islam yang cinta damai, aksi damai layak dihormati semua pihak. Misalnya, ke depan bukan tidak mungkin aksi besar-besaran menjadi agenda silaturahim nasional atau bahkan internasional secara rutin. Jika hal ini bisa terwujud, perputaran ekonomi tentu lebih cepat dan membawa berkah bagi banyak pihak.

Untuk konteks era global, ketika masyarakat terjebak dalam sosial media tapi makin cenderung antisosial atau makin sulit untuk bertatap muka, aksi damai besar-besaran menjadi sangat relevan sebagai agenda silaturahim langsung antarindividu maupun antarkelompok. Untuk konteks sekarang, urgensi meneguhkan Islam cinta damai layak dipelihara dengan cerdas agar tidak direduksi kepentingan politik yang kontraproduktif. Sejak dulu, setiap ada acara yang digelar untuk menyatukan Umat Islam, selalu ditunggangi kepentingan politik.

Lebih konkretnya, selalu ada pihak, biasanya yang sedang dirundung kekalahan dalam kontestasi politik, ingin bermanuver politis dengan memanfaatkan Umat Islam. Jika manuver politis tersebut mendapat respons dari Umat Islam yang juga merasa kalah, buntutnya akan lahir partai baru. Partai yang seolah-olah lebih islami dibanding partai-partai yang sudah ada.

Cinta Damai

Dengan kata lain, sejarah politik di negeri ini juga dipenuhi narasi manuver politis yang kemudian melahirkan partai baru. Padahal, lahirnya partai-partai baru, di lingkungan Umat Islam, sama dengan terpecahnya kekuatan politik Umat Islam. Akibatnya, politik Umat Islam akan selalu kalah bertarung dalam kontestasi demokrasi karena untuk menang kontestasi demokrasi harus berhasil mempersatukan suaranya.

Di tengah gempuran isu-isu yang merusak citra Islam secara global, akibat maraknya aksi-aksi kekerasan yang diwarnai teriakan takbir, dakwah meneguhkan Islam cinta damai perlu terus digelar. Sehingga menjadi tradisi yang memperkaya kehidupan bangsa kita yang nota bene mayoritas Umat Islam.

Terlalu sayang jika citra Islam dan Umat Islam yang cinta damai diletakkan di barisan oposan atau di kubu oposisi di negeri ini, karena hal tersebut sama dengan ketidakadilan menempatkan Islam dan Umat Islam. Sekaligus mengesankan Islam dan Umat Islam bukan pemenang. Karena yang menang dan punya posisi telanjur dicitrakan bukan Islam atau bukan Umat Islam.

Tapi lebih layak disesalkan lagi. Misalnya ada upaya membenturkan Umat Islam dengan sesama Umat Islam, sehingga berpotensi merusak citra Islam yang cinta damai. Misalnya, Umat Islam dan Ormas Islam yang ikut aksi diajak mencela Umat Islam dan Ormas Islam lain yang tidak ikut aksi.

(Dr Asmadji As Muchtar. Dekan FIK Universitas Sains Al-Quran Wonosobo Jawa Tengah. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu 30 Desember 2017)