Jateng Editor : Agus Sigit Kamis, 28 Desember 2017 / 19:34 WIB

Ketika Tegar Dikunjungi Gubernur Ganjar

Tegar Al Amin, bocah berusia delapan tahun mengalami cacat sejak dilahirkan, yaitu tidak memiliki tangan. Meski mengalami cacat fisik, tetapi Tegal tidak minder. Ia bisa menyesuaikan dengan teman-teman di klas maupun di kampung. Tegal yang kelas dua SD tersebut sudah bisa membaca dan menulis, meski menulis dengan menggunakan kaki.

Kamis (28/12), Tegar yang tinggal di Dukuh Banaran, Kelurahan Randublatung, Kecamatan Randublatung, Blora, ditemani ayahnya Sudjatmiko kedatangan tamu terhormat Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Tegar menyambut sendiri kehadiran Gubernur, dan memamerkan kemahirannya kepada Gubernur dalam menulis dengan menggunakan kaki.

Dihadapan Gubernur Tegar menuliskan namanya diatas kertas, dan menggambar gunung yang menjadi kesukaannya. Sambil tersenyum Kepada Gubernur Tegar mengatakan sudah kelas dua SD.
Menyaksikan fisik Tegar yang tidak memiliki tangan tersebut Ganjar nampak trenyuh, dan langsung mengelus kepalanya. “Kelas berapa kamu? Oh kelas dua, hebaat,” kata Ganjar.

Setelah menyaksikan kemahiran Tegar menulis dan menggambar, Ganjar kemudian mengajak ngobrol nenek dan juga tante Tegar. Ternyata sejak balita Tegar sudah ditinggal pergi ibunya entah kemana. Sehari-hari Tegar hanya bermain dengan teman-teman sebayanya di rumah.
Sejak kecil dia hanya tinggal bersama ayahnya di rumah sederhana dua petak berukuran 4x5 meter. Dengan kesederhanaan dan penuh kasih sayang, Sudjatmiko merawat anak semata wayangnya itu sendirian setelah ibunya pergi dan tak juga kembali. 

Menurut penuturan tetangga sekitar, ibu Tegar pergi ke Jakarta untuk bekerja. Namun sejak itu, Tegar tak pernah bertemu dengan ibunya. Meski tak seperti anak lainnya, Tegar tetap sekolah di SD Negeri 1 Sambongwangan. Bersekolah di sekolah umum tidak menjadi halangan bagi Tegar, nyatanya dia sudah bisa menulis dan menggambar meski menggunakan kaki.

Ari Suprihatiningsih, salah satu guru di sekolah Tegar yang ikut mendampingi mengatakan, bocah kecil itu seperti siswa lainnya di sekolah. Tegar tidak minder dengan anak normal lain. Tegar pun bisa mengikuti pelajaran dengan baik. “Pulang sekolah bareng sama teman-temannya, karena kan jaraknya juga dekat hanya 100 meter. Teman-temannya juga baik,” ujarnya.
  
Menurut Ari, Tegar belum mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) meski data Tegar sudah masuk. “Kalau dapat KIP kan lumayan bisa bantu biaya sekolah Tegar, dapatnya kan Rp 450 ribu per bulan,” tambahnya.

Mendengar hal tersebut, Ganjar kemudian meminta petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) untuk memasukkan usulan KIP dan program keluarga harapan (PKH). Sambil menunggu proses pembuatan KIP untuk Tegar, biaya sekolah Tegar ditanggung oleh Ganjar Pranowo. (Bdi)