Wisata Editor : Agung Purwandono Rabu, 24 Januari 2018 / 06:50 WIB

KULINER LEGENDARIS YOGYAKARTA

Soto Kadipiro, 90 Tahun Lebih Lezatnya Masih Sama

JANGAN datang ke tempat ini selepas pukul 13.00 WIB, soto habis. Soto Kadipiro bisa dikatakan sebagai soto paling legendaris di Yogyakarta. 

Didirikan Tahun 1921 oleh Karto Wijoyo

Soto Kadipiro awalnya dijual dengan dipikul oleh Karto Wijoyo. Sekitar tahun 1928 baru menetap di daerah Kadipiro. Sampai saat ini sudah generasi ketiga yakni ibu Sri Sundari (59). Dinamakan Soto Kadipiro karena mengambil nama tempat yakni Kadipiro. Soto Kadipiro menjadi legendaris karena mempertahankan lezatnya soto lebih dari 90 tahun.

Memasuki warung Soto Kadipiro di Jalan Wates No.33, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta tercipta suasana tempo dulu dengan penampilan bagian depan soto yang sengaja dipertahankan untuk menciptakan penampilan tempo dulu yang khas. Terdapat dua ruangan yang digunakan pengunjung untuk menyantap Soto Kadipiro.

Selain kursi-kursi dan meja terdapat pula tempat duduk yang khas yakni menghadap peracik soto. Kursi yang memanjang digunakan pengunjung untuk menikmati soto ditemani dengan pemandangan soto yang langsung diracik dan berbagai lauk tambahan tersaji di baskom besi besar yang tertata di depan meja racikan.

Di Kawasan Kadipiro ada banyak warung soto Kadipiro. Untuk membedakannya sebenarnya mudah. Watung Soto Kadipiro yang asli buka dari 07.30 - 14 atau seringkali sudah habis dipukul 13.00 WIB. Letaknya di sebelah timur SPBU Kadipiro. Jika dari arah Wirobrajan, Soto Kadipiro asli terletak di sebelah kanan jalan. Selain itu Soto Kadipiro tidak buka cabang. 

Makan Banyak Ayam, Makin Lezat Kaldunya

Dari segi rasa Soto Kadipiro mempunyai ciri khas di ayam kampung dan kaldu sotonya. Kaldu soto menjadi lebih enak sesuai dengan jumlah ayam yang dipotong. 

Dalam sehari jumlah ayam kampung yang dipotong dapat mancapai 150 ekor, khususnya hari Sabtu dan Minggu, untuk  hari Jumat sejumlah 123 ekor dan hari-hari biasa sejumlah 75-80. 

Jumlah ayam yang semakin banyak dapat membuat kaldu semakin lezat, hal ini lah yang membedakan kuah soto Kadipiro dengan soto-soto lainnya. Selain  itu ayam dimasak secara fresh, disembelih pagi hari kemudian dimasak dan diracik disajikan. Hal tersebut semakin membuat cita rasa soto ayam kampung kadipiro menjadi fresh, gurih dan nikmat. 

Dalam menikmati Soto Kadipiro pengunjung dapat menambahkan lauk lain seperti ayam goreng, tahu, tempe bacem, sate telur puyuh, mendoan (Jumat Sabtu Minggu), peyek, emping besar, kerupuk, rambak, ati goreng juga ada. Adapula minuman khas yang biasa dicari pengunjung yakni limun sarsaparela. 

Soto campur seharga Rp 15.000, sedangkan soto pisah Rp 18.000. Untuk limun sarsaparela seharga Rp 9000 per botol. Harga yang sesuai dengan cita rasa yang ditawarkan. 

Baca Juga Soto Legenderasi Lainnya :

Soto 'Sami Remen', Rahasia Sedapnya Ada di Ayam Jago
Musim Hujan, Soto Pak Gimin Layak Jadi Pilihan

Punya Banyak Pelanggan Setia

Soto Kadipiro ini buka setiap hari mulai pukul 07.30 sampai 13.30 atau sampai habis. Disarankan untuk datang lebih awal karena bisa kehabisan. 

Disamping penampilan dan rasa pelayanan rumah makan soto ini juga ramah dan cepat. Jumlah karyawan sekitar 22 orang dan sebagian besar sudah lama melayani pembeli sehingga pembeli hafal. 

Pelanggan Soto Kadipiro tidak hanya dari Yogyakarta tetapi juga luar kota, yang baisanya ingin bernostalgia menikmati soto legendaris di Yogyakarta ini. Sutopo (77) salah satu pelanggan setia Soto kadipiro. Sudah sejak tahun 1980 an berlangganan di soto kadipiro ini. Biasanya Pak Sutopo sarapan soto pada hari Minggu. 

Pak Sutopo yang berprofesi sebagai pensiunan dosen salah satu universitas swasta di Yogyakarta ini menilai Soto Kadipiro terasa enak daripada soto-soto lain di Yogyakarta. “Soto ini termasuk soto yang enak daripada soto-soto yang lain di Yogyakarta”. Biasanya Pak Sutopo menambah lauk seperti suwiran ayam.

Selain Pak Sutopo, pelanggan setia Soto Kadipiro adalah Herry Zudianto (62), Walikota Yogyakarta periode 2001-2011.  Sejak muda, sekitar tahun 1980-an sudah berlangganan Soto Kadipiro. Pak Herry dan keluarga mengunjungi warung soto sebulan bisa 2 kali.
 
“Gethok tular, saya muda soto ini sudah terkenal. Rasanya khas, terutama ayamnya. Selera kan bisa berubah-ubah, tapi ini soto punya ciri khas yang susah ditemui di tempat lain, ngangeni, pengen makan soto ini lagi dan lagi. Kuahnya segar dan ayamnya khas.
 
Tidak hanya pelanggan setia, anak-anak muda bahkan sudah mengantri sebelum warung dibuka dan menunggu di halaman untuk mencicipi segar dan legend nya Soto Kadipiro ini. Soto Kadipiro ini cocok untuk semua kalangan, anak-anak muda hingga yang sudah jadi pelanggan setia tak lupa untuk mampir kesini.

Pelanggan tidak hanya dari wilayah Yogyakarta tetapi juga dari luar kota seperti Jakarta, Bekasi, Bandung, Semarang dsb. Biasanya pengunjung yang datang ingin bernostalgia menikmati Soto Kadipiro dengan mengajak sanak saudara.

 (Lufti Nuraini Ismawati)