DIY Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 06 November 2017 / 18:50 WIB

JPW Desak Polisi Tangkap Pelaku Klitih

YOGYA, KRJOGJA.com - Kasus kekerasan jalanan yang diduga melibatkan kalangan pelajar atau kerap disebut klitih kembali terjadi di Yogyakarta. Aksi kekerasan dijalanan ini berujung korban meninggal dunia. 

Kali ini terjadi di Jalan Sudimoro- Tembi Dusun Slanggen Timbulharjo Sewon Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu (5/11/2017). Korban bernama Arif Nur Rohman warga Mredo Kabayan Bangunharjo Sewon Bantul, DIY. 

"Aksi klihtih yang merunggut nyawa Arif Nur Rohman bukanlah kasus kekerasan di jalanan yang pertama. Sebelumnya pada Rabu (15/03/2017) aksi klitihih juga menewaskan korban Ilham Bayu Fajar seorang pelajar SMP Piri 1 Kota Yogyakarta," ungkap Koordinator Jogja Police Watch (JPC) Baharuddin Kamba sebagaimana keterangan persnya, Senin (06/11/2017).

BACA JUGA :

Digebuk 'Cah Klitih', Nurharyanto Dapat 6 Jahitan

Korban Klitih Itu Sempat Minta Dibelikan Baju Baru

Dilempar Batako 'Cah Klitih', Pemuda Buruh Bangunan Tewas

 

Baharuddin menjelaskan kasus meninggalnya Arif Nur Rohman menambah daftar panjang aksi kekerasan dijalanan tidak penah berhenti. Padahal, langkah persuasif sudah sering dilakukan oleh pihak terkait pun hukuman bagi pelaku klithih tergolong berat. 

Terbukti, kata Baharuddin pada (17/04/2017) Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kota Yogyakarta memvonis enam orang pelajar pelaku kekerasan jalanan atau klitih yaitu AA (17), TP (13), JR (14), MK (14), AR (15) dan FF bersalah.

"Keenam orang pelajar ini dinyatakan melanggar Pasal 80 ayat 3 UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Sidang pembacaan vonis terhadap enam orang di bawah umur ini dipimpin hakim ketua Luis Bety Silitonga, serta dua hakim anggota Erna Indrawati dan Khoiruman Pandu Kusuma," paparnya.

Dia menambahkan Jogja Police Watch (JPW) mendesak kepada kepolisian untuk segera menangkap pelaku yang mengakibatkan korban bernama Arif Nur Rohman warga Mredo Kabayan Bangunharjo Sewon Bantul, DIY, meninggal dunia. "Ulah pelaku klitih jelas-jelas meresahkan masyarakat dan merusak predikat Yogyakarta sebagai Kota pelajar dan berbudaya." (*)