KOLOM Editor : Ary B Prass Sabtu, 07 Oktober 2017 / 16:44 WIB

Asal-usul Nama Yogyakarta

HINGGA menginjak usia 261 tahun belum juga ditemukan bukti sejarah yang eksplisit menjelaskan asal-usul dan arti nama Yogyakarta dalam peninggalan tertulis di era yang sejaman dengan pendirian kota Yogyakarta yaitu pertengahan abad ke-18. Sejarawan Darmosugito, dalam buku "Sedjarah Kota Jogjakarta" yang diterbitkan tahun 1956 menulis bahwa asal-usul nama kota ini masih diselimuti misteri.

Dalam tulisan ini saya akan meringkas beberapa hipotesa para ahli sastra Jawa tentang asal-usul nama Yogyakarta dari artikel Prof. Dr. Peter Carey yang dimuat dalam jurnal ilmiah berbahasa Perancis yang berisi kajian tentang Jawa dan Indonesia, Archipel, dan artikel dari Dr. Jacobus (Koos) Noorduyn dari jurnal yang sama, serta tanggapan atas kedua artikel di atas dari Prof. Dr. M.C Rickfles yang pernah diterbitkan oleh Komunitas Bambu tahun 2015.

Peter Carey berpendapat bahwa toponimi Yogyakarta berasal dari kata ‘Ayodhya’ dalam bahasa Sansekerta (bahasa Jawa baru : ‘Ngayodya’), yang mengacu pada ibukota Rama dalam epos Ramayana. Gagasan ini diperkuat oleh buku Thomas Raffles yang sangat terkenal, History of Java, terbit tahun 1871, yang menegaskan bahwa kota ini “diberi nama oleh pendirinya menurut nama Ayudhya, ibukota Rama yang terkenal”, yang kemungkinan hanya didengar Raffles dari tradisi tutur orang Jawa yang ditemuinya. Meskipun tanpa bukti tertulis yang kuat, namun kita tidak bisa mengesampingkan begitu saja pendapat tersebut.

Noorduyn mengemukakan pendapat tentang asal-usul nama Yogyakarta yang diperkuat dengan bukti-bukti tertulis dari surat, jurnal, memoir, dan catatan-catatan yang dilakukan oleh Belanda. Dalam dokumen-dokumen yang dikumpulkannya, ia menyatakan bahwa nama Ayogya/Yogya sudah ada sebelum kota ini dibangun tahun 1755-1756 oleh Mangkubumi yang kemudian bergelar HB I. Penulisan nama Jogja, Djokjo, Djokja, Jogjo, Djokdjo sudah termuat dalam tulisan-tulisan yang dibuat oleh Belanda sejak tahun 1743, bahkan jauh sebelum peristiwa ‘Palihan Nagari’ Perjanjian Giyanti yang memisahkan Surakarta dan Yogyakarta tahun 1755. Ejaan yang belum dibakukan dalam catatan-catatan Belanda itulah yang memunculkan variasi penulisan Yogya atau Jogja, karena huruf “J” dalam bahasa Belanda dibaca “Y”.

Dalam beberapa pupuh Babad Giyanti karya Yasadipura I, juga beberapa kali disebutkan nama ‘Ayogya’, ‘Yugya’, ‘Ngajukjeku (Ngajukja iku)’ (pupuh 6 dan 138) sebagai sebuah lokasi di Mataram dimana terdapat pesanggrahan perburuan, tempat di mana Kraton berdiri sekarang. Dalam Babad Tanah Jawi versi macapat, juga disebutkan bahwa Paku Buwana II singgah di pesanggrahan Gerjitawati dan mengubah namanya menjadi Ayogya (pupuh 229).

Rickfles yang menyanggah argumentasi Yogya berasal dari ‘Ayodhya’ ibukota dalam Ramayana, juga membeberkan tambahan bukti tentang penulisan nama Yogya sebelum pembangunan kota ini. Beliau menyimpulkan bahwa sebelum kota Ngayogyakarta Hadiningrat diumumkan oleh HB I, sudah ada dusun di sana yang bernama Garjitawati dan/atau Yogya atau Ayogya. “Garjita” dalam bahasa Sansekerta artinya “meraung, menyombongkan diri, angkuh, membual”, dalam bahasa Jawa Kuna artinya “gembira,senang, puas”, dalam Bahasa Jawa Baru “sangat puas, gembira, meraskan emosi yang kuat”. Bangunan pesanggrahan di hutan Beringan/alas mBering ini digunakan sebagai tempat istirahat perburuan, yang kemungkinan lokasinya berada tepat di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sekarang ini, dan pesanggrahan ini barangkali sudah ada sejak era Amangkurat II bertahta pada era ibukota Mataram berpindah ke Kartasura.

Meskipun etimologi kata Yogya masih simpang siur dan tidak bisa dipastikan sejarahnya, setidaknya dalam bahasa Jawa baru dan bahasa Indonesia kata ‘Yogya’ sudah mendapatkan terjemahannya yaitu ‘sesuai, layak, pantas, pas’. Berarti tidaklah berlebihan kalau sementara ini kita sepakat mengartikan Yogya-karta sebagai ‘kota yang layak dan pas untuk dihuni’. 
Selamat ulang tahun kotaku tercinta!

Paksi Raras Alit
Seniman, Sarjana Sastra Jawa