Ragam Editor : Ivan Aditya Jumat, 07 April 2017 / 11:19 WIB

Darurat Narkoba, Kanker, Seks

TANGGAL 7 April 2017, Hari Kesehatan Dunia yang bertema kesehatan global non depresif . Di antaranya dilingkup ‘Darurat Narkoba, Kanker, Seks’. Ada apa dengan ketiga masalah tersebut dan adakah keterkaitan satu dengan yang lain?

Diakui atau tidak, permasalahan narkoba sudah sangat menyeruak. Dampaknya pun, bukan hanya bagi pemakai namun juga sudah sampai pada keluarga bahkan lingkungannya. Tidak heran bila saat ini terjadi pertarungan sengit kampanye gerakan penyuluhan pencegahan narkoba versus gerakan pengedar penikmat penggunanya.

Materi penyuluhan meliputi jenis narkoba, cara kerja, adiksi, efek sampingnya bagi organ tubuh, kejiwaan bahkan perilaku kebiasaan hidup negatif, kriminal pengguna; bersifat persuasif yang relatif abstrak. Sedangkan iming - iming sebagai pengedar menjanjikan keuntungan bisnis uang besar. Sebagai pengguna disodori nikmatnya narkoba tanpa menyinggung efek samping dan diberikan untuk mencicipinya (lebih praktis, realistis, menarik).

Di sisi lain kemajuan disegala bidang, membuat ruang gerak pergaulan semakin lepas control. Demikian halnya gerak sindikat pengedar bisnis narkoba. Akibatnya seperti ditayangkan di media massa, Indonesia dinyatakan Darurat Narkoba. Solusinya penyuluhan berpacu lebih gencar dan praktisnya, kalau pengguna sadar/diantar keluarga datang ke rumah sakit binaan BNN dilakukan konsultasi rehabilitasi. Sebaliknya kalau ‘tertangkap’ polisi, berurusan dengan jalur hukum.

Darurat Kanker

Saat ini terjadi pertarungan antara perkembangan faktor penyebab kanker, naiknya prevalensi populasi penderita kanker yang cenderung menyerang ke usia produktif versus upaya deteksi dini dan pengobatan kuratifnya. Faktor genetik, lingkungan, perilaku kebiasaan, pola kerja, stress kejiwaan, mutasi spontan sebagai penyebab kanker semakin meningkat kuantitatif dan kualitatif. Sementara penyakit kanker baik yang dipermukaan tubuh, apalagi yang diorgan dalam tidak menimbulkan gejala, tanda, rasa sakit yang signifikan; sehingga penderita cenderung diketemukan terdiagnosis dalam stadium lanjut (‘terlambat’).

Akibatnya, berdampak penderitaan berat dan panjang, biaya pengobatan mahal, resiko kematian tinggi; darurat kanker dimaknai sebagai pembunuh SDM produktif dan menghabiskan plafon dana BPJS. Untuk itu perlu dilakukan gerakan deteksi dini mulai dari kanker kulit, bawah kulit, payudara, leher rahim kemudian organ dalam oleh masyarakat bersama pusat pelayanan kesehatan primer rujukan berjenjang ke RS tipe D.

Darurat Seksual Darurat seksual ditengarai dengan tingginya kasus pelecehan, perkosaan bahkan pada anak, seks pranikah, kehamilan pranikah, aborsi, gonjang - ganjing pernikahan, perceraian bahkan kriminalitas pembunuhan yang menyertainya. Hal ini terjadi akibat gairah seksual yang tak dikendalikan, pernikahan hanya membayangkan malam pertama dan bulan madu.

Di sisi lain pendidikan kesehatan reproduksi, persiapan nikah yang tidak sepadan dengan perkembangan pornografi dan pornoaksi. Seperti halnya nafsu makan, birahi ketertarikan antarjenis adalah anugerah Allah dalam rencanaNya yang selalu baik. Proses fisiologis nafsu makan yang dimulai dari reflek lapar jauh lebih sederhana dibandingkan nafsu birahi. Sensasi fantasi birahi melibatkan mekanisme multi hormonal - saraf - organ tubuh bahkan psikologis moral spiritualitasnya yang lebih unik kompleks holistik. Solusinya nafsu birahi sejak dini perlu dikendalikan dalam pergulatan pendidikan karakter untuk disalurkan ke hal - hal positif; penampilan diri bersih menarik - semangat belajar - beribadah - bermain - olah raga - hobi - organisasi - pergaulan komunitas sebaya.

Persiapan pernikahan memang harus dilakukan sejak awal alami, pembelajaran keterbukaan pacaran saling mengenal, menyesuaikan kedewasaan, tanggung jawab sosial - ekonomi - spiritual menuju pernikahan kesejahteraan yang indah pada waktunya sampai akhir hayat. Sebaliknya, masa pacaran yang indah saling memotivasi, sekali terjebak hubungan seksual akan membuat semuanya tidak indah problematik, apalagi kalau terjadi kehamilan.

Akhirnya perlu ditekankan bahwa keluarga, sekolah, lingkungan, tempat kerja adalah komponen penting dalam sinergisme pendidikan. Dibudayakan pola perilaku hidup bersih sehat, keluarga sakinah, anak soleh solekhah. Di sisi lain materi pendidikan yang berorientasi perilaku transformatif holistik harus menjadi keniscayaan. Hal ini karena banyak orang tua yang sudah merasa tuntas perannya hanya dengan memberikan biaya sekolah dan menuntut sukses IP tinggi.

(dr JB Soebroto. Dosen Agama Kedokteran, Pembina Pendidikan Karakter Out Bound Banyu Sumilir CSR RS Puri Husada. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 7 April 2017)