Ragam Editor : Ivan Aditya Selasa, 14 Maret 2017 / 22:39 WIB

Revitalisasi Visi Kraton

BERDIRINYA suatu negara tidak pernah lepas dari peran kepemimpinan pendirinya yang kemudian dikenang sebagai the founding fathers. Dalam negara republik seperti Indonesia, pendirinya berupa tim pemimpin. Ada yang menyebut empat tokoh pemimpin utama: Soekarno, Hatta, Soepomo, Muhammad Yamin. Yang lain menyebut ada 68 tokoh founding father bangsa ini. Adapun dalam negara berbentuk monarki seperti Kesultanan Ngayogyakarta, pendirinya adalah seorang tokoh visioner yang kemudian naik tahta menjadi raja.

Kualitas kepemimpinan visioner seorang tokoh pendiri sangat menentukan kualitas negara yang didirikannya. Mataram Islam menjadi besar dan jaya karena dibangun seorang pemimpin visioner, Panembahan Senopati. Pada awalnya, Ki Ageng Pemanahan membangun daerah Mentaok (sekarang Kotagede) menjadi sebuah Kadipaten yang berada di bawah kekuasaan Pajang. Kemudian anaknya, Danang Sutawijaya, mengembangkan Kadipaten Mentaok itu menjadi sebuah kerajaan baru yang dikenal sebagai Mataram Islam. Danang menjadi raja pertamanya dengan gelar Panembahan Senopati (1584-1601).

Kunci keberhasilan Panembahan Senopati terletak pada kualitas visinya. Kerajaannya dibangun berdasar ilham yang diolah dalam batinnya melalui sebuah perenungan spiritual-intelektual mendalam. Perenungan itu dilakukannya di lokasi khusus yang sekarang ditengarai sebagai situs Selo Gilang di Desa Gilangharjo Kabupaten Bantul. Panembahan Senopati mendapatkan ilham yang dinamakan sebagai ‘Wahyu Lintang Johar’ berupa konsep futuristik tentang kerajaan baru. Setelah Panembahan Senopati, Mataram Islam dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Panembahan Hanyakrawati (1601-1613).

Mataram Islam kemudian mencapai puncak kejayaannya setelah dipimpin oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1646). Daerah kekuasaan Mataram Islam mencakup Jawa, Madura, serta daerah Sukadana di Kalimantan Barat. Untuk Pulau Jawa, hanya Banten dan Batavia yang gagal direbut karena dikuasai oleh VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie).

Kunci keberhasilan Sultan Agung adalah kapasitas kepemimpinan visionernya. Cakap merevitalisasi visi kerajaan yang dulu dirintis pendirinya, Panembahan Senopati. Revitalisasi visi itu bukan sekadar nguri-uri (mengawetkan) visi awal, tetapi membuat inovasi dan reformasi visioner. Mataram Islam menjadi dinamis dan aktual. Salah satu gerakan pembaruannya adalah memadukan tradisi pesantren (Islam) dengan tradisi kejawen dalam sistem penanggalan.

Jika Mataram Islam tumbuh berkat kepemimpinan visioner pendirinya dan kemudian maju berkat revitalisasi visi Sultan Agung, begitu pula dengan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Kasultanan Yogya berdiri berkat visi Pangeran Mangkubumi yang kemudian naik tahta menjadi Sultan HB I (1755-1792). Ia adalah seorang nasionalis yang sangat antikolonialisme. Seorang arsitek, ahli bangunan, dan juga memiliki keahlian dalam ilmu pemerintahan, kemiliteran, filsafat, dan seni. Pada 9 November 2006, Pemerintah RI menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional (Keppres No 085/TK/2006).

Hampir dua abad kemudian, Kasultanan Yogya yang sempat melemah karena penjajahan asing ini bangkit kembali setelah Sultan HB IX merevitalisasi visi Kraton. Tidak sekadar nguri-uri visi awal Kasultanan, tetapi melakukan inovasi dan reformasi kreatif dengan melahirkan konsep kepemimpinan baru ‘tahta untuk rakyat’. Pembaharuan visi Kraton inilah yang menaikkan posisi tawar Yogya saat Indonesia merdeka, hingga memperoleh kedudukan sebagai sebuah daerah istimewa. Bahkan, revitalisasi visi Kraton itu membuat Yogya mampu berkontribusi sebagai íibu pengasuh bayi RIí dengan menjadi Ibukota Negara RI (1946-1949).

Sekarang, setelah Kraton Kasultanan Yogya berumur 270 tahun, diperlukan revitalisasi visi yang inovatif-reformatif. Bisa jadi inovasi dan reformasi itu berdampak perubahan. Kunci suksesnya adalah pada sosok pemimpin visioner yang mumpuni. Inovasi dan reformasi visi yang dilancarkan Sultan Agung dan Sultan HB X sebenarnya berwujud perubahan sosial yang membarui bahkan merombak tradisi lama dan visi awal. Namun karena kedua tokoh ini mumpuni dalam visi maka kepemimpinan reformis mereka justru menciptakan kejayaan. Namun sebaliknya, inovasi dan reformasi visi yang tidak tepat justru menjadi bumerang destruktif bagi raja dan kerajaannya.

Demikian juga Indonesia. Negeri ini kuat karena dibangun berdasar visi yang kokoh yang diformat founding fathers. Sekarang kita jangan sekadar mengawetkan visi awal kita : Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI). Harus muncul pemimpin-pemimpin visioner baru yang merevitalisasi visi bangsa. Melalui inovasi-reformasi segar untuk menjadikan Indonesia aktual di era kekinian.

(Dr Haryadi Baskoro. Pakar Keistimewaan Yogya. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 14 Maret 2017)