DIY Editor : Danar Widiyanto Kamis, 09 Maret 2017 / 17:31 WIB

Menyampaikan Pesan, Rekayasa Dalam Fotografi Tidak Bisa Dihindari

YOGYA (KRJOGJA.com) - Untuk menghasilkan sebuah foto yang menyampaikan pesan kepada siapapun yang melihatnya, bukan berarti kita tidak membutuhkan distorsi atau rekayasa dalam menciptakan sebuah foto. Fotografi yang jujur pun juga membutuhkan distorsi agar foto dapat menyampaikan pesan yang diinginkan.

Namun pada jaman sekarang, masih banyak orang yang berfikir bahwa rekayasa dalam menciptakan sebuah foto hanya sebatas photoshop atau software lainnya, fenomena tersebut ditanggapi oleh Budi N D Dharmawan, Stringer Fotografer National Geographic.

“Rekayasa fotografi tidak hanya di photoshop saja. Fotografi yang jujur pun sebenarnya juga membutuhkan rekayasa. Misalnya, mendekatkan objek yang jauh dengan lensa. Asalkan rekayasanya masih diijinkan dalam jurnalistik,” ujar Budi dalam acara Diskusi Buku dan Coaching Clinic Fotografi “Merekam Kisah Membuka Mata”, Kamis (09/03/2017) di Auditorium IFI/LIP Yogyakarta.

Budi menambahkan bahwa terkadang sebuah objek yang letaknya jauh harus dibuat menjadi dekat dalam sebuah foto agar dapat menguatkan pesan dari foto tersebut. Budi pun juga menjelaskan bahwa menggunakan lighting ketika mengambil foto sebuah objek di kegelapan juga termasuk distorsi. “Kalau sudah begitu, kan namanya juga rekayasa, tapi tanpa rekayasa tidak mungkin, masa nanti jadinya gelap? Pesannya jadi tak tersampaikan dong,” terangnya.

Sebuah contoh foto yang menggambarkan perjuangan anak-anak pedalaman di Indonesia untuk mengenyam pendidikan pun ditunjukkan dalam acara tersebut. Di dalam foto tersebut terdapat jembatan rusak yang biasanya digunakan oleh anak-anak Sekolah Dasar di pedalaman untuk menyebrangi sungai agar bisa sampai ke sekolah mereka yang ada di seberang sungai. Foto tersebut, Budi menjelaskan, diambil pada saat anak-anak Sekolah Dasar hendak berangkat ke sekolah.

Budi memaparkan bahwa foto jembatan rusak tersebut akan menyampaikan pesan yang berbeda apabila foto tersebut diambil pada saat anak-anak sudah masuk ke sekolah mereka. “Pesannya tidak akan sampai. Foto itu hanya akan mengatakan kepada kita bahwa ada jembatan rusak di pedalaman. Kalau dalam foto tersebut ada anak-anak yang berusaha menyebrang menggunakan jembatan itu, maka foto itu berpesan kepada kita bahwa ada anak-anak yang mempertaruhkan nyawa untuk sebuah pendidikan,” papar Budi. (MG-07)