Ragam Editor : Ivan Aditya Jumat, 24 Februari 2017 / 22:43 WIB

’Mocosik’dan Kelisanan Kelima

"Jika bukan karena ayah yang memperkenalkan aku kepada buku, saya tentu tidak menjadi seperti sekarang, bisa menulis lagu dan puisi" (Raisa, penyanyi).

Mocosik Book and Music Festival memang sudah berakhir di Hari Valentine tahun 2017 ini, namun makna kehadiran yang dikandungnya justru baru saja dimulai. Terutama soal apakah Mocosik yang diselenggarakan promotor buku Kampung Buku Jogja dan promotor musik Rajawali Indonesia Com ini memberi kesegaran pada pergelaran buku di Yogyakarta.

Dari segi tema dan pola, jelas Mocosik adalah festival pertama yang mempertautkan buku dan konser musik dalam satu tarikan panggung besar. Konser musik yang dari segi tata panggung dan hampir seluruh area festival dirancang seperti halnya kita memasuki sebuah peristiwa festival buku. Para pencinta buku dan penonton musik diperkenalkan dengan nama, wajah, dan sejumlah kutipan pikiran mereka dalam lebih dari 40 panel yang menghiasi seluruh dinding pertunjukan.

Namun, berbeda segalanya dari festival buku yang kerap diselenggarakan di Yogyakarta dalam satu dekade terakhir. Mocosik menyegarkan dalam tontonan dan sekaligus menuntun para pencinta konser musik dalam pelbagai aliran untuk memegang buku. Saya menyaksikan Mocosik sebagai dakwah populer memasuki pintu air bah kelisanan kelima yang ditawarkan media sosial kiwari.

Teknologi

Oral story pertama yang mengendarai teknologi percakapan berbasis internet muncul saat gelombang chat via mIRC menjadi wabah di warnet-warnet sepanjang tahun 90-an. Platform percakapan mIRC yang dikembangkan Jarkko Oikarinen pada 1988 ini saking terkenalnya menjadi judul lagu T-Five dengan liriknya yang terkenal: "Si Ramli raja chatting, punya gebetan namanya Putri".

Saat mIRC surut, datang Yahoo Messanger yang menyempurnakannya dengan room chat yang kaya dengan emoticon memikat. Wabah budaya SMS turut berkembang saat pengguna ponsel membiak. Lahirnya platform Blackberry Messanger dan saat ini Line dan WhatsApp menjadikan kegilaan pada budaya cakap makin tak terbendung. Bersamaan dengan itu ledakan penggunaan media sosial makin tak terkendali.

Twitter dan Facebook, untuk menyebut contoh, adalah lanjutan budaya cakap dalam bentuk tertulis. Bentuknya yang serius di sastra adalah lahirnya penulis-penulis Wattpad Literature, sebuah platform bersama yang memungkinkan remaja bercerita apa saja dengan sebayanya. Ajaib, kadang unggahan-unggahan cerita cakap mereka mengundang jutaan pembaca yang umumnya berusia 15 hingga 24 tahun.

Kita berada dalam ekosistem populer semacam ini di mana usaha-usaha kedalaman menjadi sesuatu yang langka dan makin ke sini makin terlihat purba dan ganjil. Yang muncul kemudian celaan dan kutukan.

Mengutuk budaya cakap dengan mengeluarkan ragam bunyi statistik yang mencela remaja-remaja gandrung game dan pemuja diri dalam pertukaran cakap yang nyaris tak mengenal jeda ini bukan saja tak bijak. Tapi juga membikin kita frustrasi dan cepat tua dari usia semestinya. Mengutuk mereka sebetulnya sama saja membiarkan kita kehilangan inovasi mencari metode bagaimana suka buku, gandrung kepada dunia ide. Tapi tetap nggaya dan hidup dalam limpahan kreativitas.

Mengintervensi

Nah, saya melihat Mocosik tidak mengutuk budaya-budaya populer, kerumunan massa penonton, atau penggila idola seperti yang terjadi sekarang ini. Ia justru memasuki budaya itu --dalam hal ini panggung musik- -dengan cara mengintervensinya.

Oleh karena itu, Mocosik menjauhi model seminar serius untuk mengajak dan memanggil-manggil orang membaca buku. Bahkan, kerap karena dipanggil dengan cara didaktik, bukan pembaca yang datang, terutama lapisan kawula muda, malahan para pegiat buku dirundung putus asa. Maka, suara yang ke luar adalah suara sumbang melulu, keluhan melulu.

Tentu saja, Mocosik masih perlu diuji sejarah hingga satu dekade ke depan. Apakah mendialogkan budaya baca dan dengar bisa berjalan bersisian dan menampakkan hasil yang sepadan dengan misi awalnya. Yang pasti, Mocosik menambah kesegaran festival di Yogyakarta. Bukan saja model penyelenggaraan festival buku, namun juga pergelaran konser musik.

(Muhidin M Dahlan, Kerani @warungarsip di Bantul. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Jumat 24 Februari 2017)