Ragam Editor : Ivan Aditya Selasa, 14 Februari 2017 / 08:01 WIB

Hari (Krisis) Kasih Sayang

TANGGAL 14 Februari, remaja biasanya sibuk mempersiapkan hadiah spesial seperti coklat, bunga, dan boneka untuk pujaan hatinya. Tradisi Barat yang sudah berlangsung sejak lama, dan susah sekali dicari asal mula serta kebenaran historisnya. Yang pasti, remaja memeringati sebagai hari Valentine, atau hari kasih sayang.

Kendati yang diperingati hari kasih sayang, peringatan tersebut menyisakan pro dan kontra yang terus diperdebatkan. Ada yang menganggapnya sebagai perilaku wajar efek pubertas remaja, dan ada pula yang menganggapnya sebagai perilaku yang berlebihan efek hedonisme. Selain kedua pandangan tersebut, valentine juga disoroti dari aspek religi. Bahkan ada beberapa organisasi keagaman yang terang-terangan memfatwakan haram perayaan ini. Isu rutin tahunan yang terus diperdebatkan tanpa menemui ujung yang pasti.

Terlepas dari pro dan kontra perayaan valentine tersebut, satu hal yang bisa dijadikan refleksi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara adalah masih adakah kasih sayang di antara sesama manusia?

Barang Mewah

Hal tersebut pantas ditanyakan kembali ke dalam benak masing-masing, karena belakangan ini ‘kasih sayang’ kian menjadi barang mewah, yang tidak semua orang punya. Lihat saja televisi yang saban hari menyiarkan tindak kejahatan yang seakan tidak ada habisnya. Di panggung politik juga bisa kita lihat para elite saling berprasangka dan menjatuhkan hanya karena untuk meraih ambisi masing-masing. Nampak sekali kasih sayang yang memang telah memudar di negeri ini.

Melihat fenomena yang terjadi sekarang, nampaknya memang tidak ada satu haripun yang benar-benar terdapat kasih sayang di dalamnya. Hal tersebut dapat dilihat dari maraknya ujaran-ujaran kebencian yang beredar di dunia maya lantaran perbedaan pendapat. Masing-masing kelompok mempromosikan idealismenya, lalu memvonis yang lain sebagai paham yang salah. Tindakan memonopoli kebenaran tersebut lah yang memicu terjadinya benih-benih perpecahan.

Kemajuan teknologi dan informasi, selain memberikan manfaat yang luar biasa, nampaknya juga dimanfaatkan oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk menciptakan kegaduhan. Media sosial contohnya, yang kini sudah menjadi ladang hoax (informasi palsu). Hoax yang sudah telanjur tersebar akan sulit ditarik. Ia akan dengan mudah tersebar bak virus yang mengalir di pembuluh darah. Menjadi bukti bahwa betapa kebencian telah menguasai hati masyarakat kita, sehingga keadilan dan kasih sayang antar sesama manusia sudah tidak dihiraukan lagi.

Krisis Kasih Sayang

Tahun ini percayaan valentine berdekatan dengan hari pemilihan kepala daerah (pilkada) 15 Februari. Sebuah peristiwa dimana antara kandidat saling serang untuk memperebutkan kekuasaan. Saling menghalalkan cara untuk meraih kemenangan. Masih adakah kasih sayang disitu?

Pilkada seharusnya tidak membuat Indonesia krisis terhadap kasih sayang. Sebagai ajang pencarian pemimpin terbaik, seharusnya pilkada diwarnai dengan program-program terbaik dari para kandidatnya, bukannya malah isu yang berpotensi memicu perpecahan antarumat.

Dengan semboyan bhinneka tunggal ika, perbedaan sudah tidak relevan lagi diperdebatkan. Semboyan tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat dari pelbagai latar belakang suku, agama, ras untuk melebur menjadi satu memajukan Indonesia. Tidak ada golongan yang diunggulkan, kecuali karena kecintaannya terhadap tanah air. Semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berkontribusi demi kemajuan Indonesia.

Sungguh sangat menyedihkan jika 14 Februari diperingati sebagai hari kasih sayang, lalu sehari kemudian Indonesia gaduh karena pilkada. Menjadikan isu SARA sebagai bahan bakar kampanye politik tentulah memiliki risiko. Tindakan memecah belah umat yang demikian ini akan membuat Indonesia jatuh dalam keadaan krisis kasih sayang.

Menjadikan hari kasih sayang sebagai pengingat agar manusia saling menyayangi tentu akan memberikan efek positif pada kehidupan berbangsa dan bernegara, walaupun berbeda pilihan pada keesokan hari. Indonesia akan naik satu tingkat apabila masyarakatnya mampu meredam kebencian, terutama di ajang pilkada ini. Jika melihat valentine sebagai perayaan kasih sayang yang universal, yaitu kepada seluruh umat manusia, maka hari tersebut perlu dirayakan setiap hari.

(Thoriq Tri Prabowo. Alumnus Magister Interdisciplinary Islamis Studies Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 14 Februari 2017)