Hiburan Editor : Ary B Prass Senin, 30 Januari 2017 / 18:43 WIB

Pendewasaan Punk Yogya (1): Masih Do It Your Self

SEJAK kata "Punk" muncul kali pertama dalam karya William Shakespeares berjudul "The Marriage of Lady Windsor", penikmat seni pertunjukkan di abad 19 yakin bakal ada gerakan hebat lahir di Inggris. Prediksi itu mewujud beratus tahun kemudian, tepatnya tahun 1970-an yang makin berkembang jadi sub-kultur pada 1980-an. Anak-anak kelas pekerja jengah dengan kediktatoran negara yang melulu mengaitkan persoalan sosial pada moral dan etika. Lahirlah kemudian pemberontakkan etika di Inggris oleh anak muda.

Mereka tak lagi berpakaian sopan seperti yang disarankan Istana. Mereka memproduksi gaya hidup sesuai keyakinan sendiri dan membuang jauh-jauh negara. Keyakinan yang dirumuskan William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin sebagai anarkisme. (Kini konsep ini kerap disalahpahami), yaitu paham yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri. Kaum punk memaknai anarko ke keseharian hidup: tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun industri. Namun, di tempat kelahirannya, Punk tak antisosial. Satu dekade perjalanan gerakan ini menemui hakekatnya: pantang menyerah serta peka terhadap masalah sosial di sekitar.

Gerakkan yang membesar ke belahan dunia lain tahun 90-an itu makin populer karena dibungkus melalui musik. Musik Punk, secara umum, membelot dari pakem musik-musik populer saat itu. Estetika aransemen dan lirik jadi nomor kesekian. Yang utama dari musik Punk adalah pesan terang-terangan tentang realita dengan beat menghentak. Musik seperti ini kian populer lalu perlahan menanggalkan esensi Punk sebenarnya. Pemahamannya lalu terdistorsi jadi gaya hidup semata. Indonesia, tak luput dari fenomena ini.

Setidaknya ada tiga hal yang disuarakan lewat ideologi Punk ini. Pertama adalah menarik ke ranah politik di mana gerakkan ini selalu menentang kediktatoran pemerintah yang lahir lewat kebijakan. Kedua, antikemapanan yang banyak disalahartikan. Antikemapanan yang dimaksud dalam Punk bukan soal menolak menjadi kaya karena berpeluang menjadi kapitalis kaffah atau menolak hidup mewah. Antikemapanan yang dimaksud adalah menjauhkan diri dari nalar kritis karena berpotensi membatasi kebebasan berpikir. Ketiga adalah mandiri. Individu Punk wajib bisa hidup mandiri, tak bergantung pada negara dan industri, dan bertahan hidup dengan ide-ide kreatif. Gerakkan ini yang melahirkan motto Do It Your Self.

Sub-kultur urban ini melahirkan gaya hidup dan musik. Di Indonesia, khususnya Yogyakarta, banyak anak Punk yang sukses memahami Punk sebagaimana gerakan awal di Inggris. Namun pencapaian itu melalui pendewasaan berpikir yang tidak sebentar. Para penganut Punk ini, entah tercebur setelah memainkan musiknya atau <I>fashion<P>-nya mengalami fase yang rumit. Mereka, seperti kata Joe Kidd, sesepuh Hardcore Asia Tenggara bahwa  punk memiliki arti yang berubah-ubah sesuai dengan tingkat kedewasaannya. Saat dia berusia 13 tahun, punk adalah sesuatu yang liar, dengan dandanan yang revolusioner, tidak perlu berangkat ke sekolah setiap pagi, dan selalu di temani musik setiap saat. Lalu dia terus berpikir dan akhirnya menemukan bahwa punk bukan hanya itu namun punk adalah sebuah semangat.

"Semangat untuk perubahan, ketidaktergantungan, proses kreatif dan peduli terhadap politik. Semakin lama pandangan punk makin luas. Tapi penekanannya selalu tetap di bagian yang sama. Punk adalah sebuah semangat untuk menghadapi hidup dengan kreativitas tinggi," tulisnya dalam sebuah wawancara dengan BBC.(Des)