Ragam Editor : Ivan Aditya Senin, 16 Januari 2017 / 09:59 WIB

Rafsanjani dan Fenomena Iran

REPUBLIK Rakyat Iran kehilangan sang penyeimbang, Akbar Hashemi Rafsanjani meninggal dunia di Teheran pada Minggu (8/1) lalu. Presiden ke-4 Iran itu mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit karena menderita serangan jantung, pada usia 82 tahun. Banyak kalangan merasa kehilangan karena sentuhan revolusionernya.

Akbar Hashemi Rafsanjani atau familiar dengan nama Hashemi Bahramani adalah seorang penulis masyhur dan seorang politisi andal. Ia tokoh utama dibalik berakhirnya dualisme kepemimpinan atau kekuasaan di Iran, dan merupakan salah satu pilar Revolusi Iran (Jomhouri-e Iran) tahun 1979. Sikap pembaharu dalam jiwanya telah tertanam semenjak menduduki jabatan di parlemen sebagai ketua serta komandan pasukan tentara Iran, dan menjadi orang kepercayaan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ruhollah Khomeini.

Ketika masih hidup ia pernah menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode (1989- 1997). Sebagai veteran politik, semangatnya tidak pernah padam. Ia mencalonkan diri kembali sebagai Presiden Iran pada tahun 2005, namun dikalahkan Mahmoud Ahmadinejad. Majalah Forbes pernah mencantumkan Rafsanjani dalam daftar orang terkaya di dunia dan pernah menulis bahwa dialah kekuatan yang sesungguhnya di balik pemerintahan Iran selama 24 tahun terakhir ini.

Dogma Pragmatisme

Ketika Rafsanjani terpilih sebagai Presiden Iran tahun 1989, hakikatnya adalah sebuah keniscayaan. Karena pada tahun yang sama rakyat Iran kehilangan tokoh sentral Imam Khomeini yang meninggal dunia 3 Juni 1989. Rafsanjani seolah menjadi penyeimbang karena kepergian Khomeini membuat rakyat Iran seperti kehilangan arah, dan menyebabkan banyak benturan kepentingan yang menyelimuti langit Iran. Selain semangat ‘Khomeinisme’ masih menguat. Waktu itu juga terjadi benturan antarulama yang berbeda haluan, ditambah persaingan antartokoh dan kelompok yang berbeda secara ideologis.

Begitu Rafsanjani terpilih sebagai presiden, dan Ali Khamenei menjadi pengganti Khomeini, menguatlah persaingan antarfraksi konservatif, pragmatis, dan radikal. Kubu ulama pragmatis berada di bawah Rafsanjani. Visi besar Rafsanjani adalah menciptakan negara yang kuat dengan birokrasi yang mumpuni: mampu dan cakap. Iran akan berfokus untuk membangun kembali masyarakat yang tercabik-cabik dan menyembuhkan luka akibat delapan tahun perang Iran-Irak (1980-1988).

Di bawah masinis Rafsanjani, lokomotif Iran memasuki zaman baru. Masa perubahan yang antara lain ditandai oleh adanya ‘pergeseran orientasi’ dari jagat revolusi ke semesta pembangunan. Ia bahkan mengambil langkah moderasi dalam beberapa kebijakan luar negerinya. ”Jika orang percaya bahwa kita dapat hidup di balik pintu yang tertutup, mereka itu salah. Walaupun kita harus independen secara pantas, kita membutuhkan kawan dan sekutu di seluruh dunia,” katanya. Konstelasi politik di dalam negeri pun lebih kondusif untuk gagasangagasan reformasi Rafsanjani.

Dalam menyampaikan pidato pelantikannya, Rafsanjani menegaskan bahwa kemerdekaan hanya akan mempunyai arti nyata apabila Iran kuat secara ekonomi. Rafsanjani tampaknya tidak ingin membuang-buang waktu. Sebuah rencana pembangunan repelita yang bertujuan memulihkan ekonomi dalam negeri segera disusun. ”Revolusi adalah tugas revolusioner seluruh bangsa Iran,” kata Rafsanjani. Menyadari betapa parahnya kerusakan Iran akibat perang, ia lebih memprioritaskan program kerjanya pada pemulihan sektor industri, khususnya industri minyak. Bahkan Rafsanjani memberikan tempat kepada sektor swasta.

Pukulan bagi Rouhani

Meninggalnya Rafsanjani adalah pukulan telak bagi Hassan Rouhani (Presiden Iran sekarang). Rouhani sulit melepaskan pengaruh Rafsanjani dalam roda pemerintahannya, apalagi ia diprediksikan bakal mencalonkan diri sebagai presiden kembali pada Mei 2017. Dalam pemerintahannya selama ini Rouhani banyak mendapatkan dukungan dari Rafsanjani. Bahkan orang mau bekerja dengan Rouhani karena ada Rafsanjani di belakangnya.

Dalam suatu kesempatan Rouhani pernah mengatakan : ”Rafsanjani adalah legenda keimanan, kesabaran, toleransi dan moderasi”. Sehingga meninggalnya Rafsanjani akan menyulitkan Rouhani dalam sisa-sisa masa jabatannya. Kalaupun mencalonkan kembali jadi Presiden Iran belum tentu ia menang. Karena kalangan reformis mulai memainkan tangan-tangan politiknya.

Dialah ‘sheikh moderasi’. Selain tokoh lintasnegara merasa kehilangan, kepergiannya adalah simposium duka-lara terbesar bagi kubu pragmatis dan kubu reformis Iran saat ini.

(Khairul Mufid. Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional, Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 16 Januari 2017)