DIY Editor : Agus Sigit Sabtu, 14 Januari 2017 / 14:50 WIB

Komunitas Bahagia Tanpa Riba, Siapa Mereka?

BANTUL (KRjogja.com) - Gerakan dan slogan anti riba mulai meluas dikalangan umat muslim secara menyeluruh. Di Yogyakarta gerakan moral spiritual ini semakin banyak didengungkan mulai dari dakwah masjid, pengajian, seminar hingga merambah ke media sosial.

Dalam islam sendiri definisi riba adalah penambahan pada harta dalam akad tukar-menukar atau pinjaman tanpa adanya imbalan atau pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil atau tidak sesuai dengan ajaran islam. Di dalam islam riba dalam bentuk apa pun dan dengan alasan apa pun dilarang oleh allah swt, sehingga, hukum riba itu adalah haram.

Salah satu komunitas yang konsen mendukung gerakan anti riba ini adalah Komunitas Bahagia Tanpa Riba (BTR) yang membawa misi dakwah menyebarluaskan pemahaman tentang riba dan membantu seseorang yang terjerat masalah dengan riba. Keberadaan komunitas ini sebagai tempat konsultasi sekaligus aduan bagi korban riba.

"Komunitas ini hadir berawal dari banyaknya keluhan terkait praktik riba, yang kemudian melalui semangat kepedulian membantu korban riba kita bersama-sama mendirikan komunitas ini. Diharapkan masyarakat terbuka hatinya terkait kerugian yang ditimbulkan jika melakukan praktik riba yang jelas dilarang agama," ujar Koordinator BTR, Aji Pamungkas kepada KRjogja.com belum lama ini.

Komunitas bahagia tanpa riba menegaskan pendampingan yang dilakukan kepada korba riba adalah memberikan konseling melalui konsultasi hingga menjembatani penyelesaian masalah antara korban dan lembaga terlapor. Salahsatu syarat wajib mendapatkan bantuan dari komunitas BTR, korban diwajibkan melakukan taubat nasyuha dan berjanji tidak akan mengulangi praktik riba dalam kehidupannya.

Tidak kurang selama komunitas ini berdiri sejak 2015, puluhan kasus yang berkaitan dengan riba dapat diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. kasus yang paling banyak ditangani adalah pinjaman dengan rentenir, lembaga keuangan hingga leasing. Kini anggota komunitas BTR berjumlah lebih kurang 30an relawan yang berasal dari lintas usia dan profesi. Pengaduan dan konsultasi terkait riba dijadwalkan secara reguler sehabis shalat jumat dibasecamp komunitas BTR di masjid Firdaus, Ngoto, Bangunharjo, Sewon Bantul.

"Kita tegaskan bantuan yang kita berikan bukan dana untuk menalangi hutang, namun fokus pada pendampingan penyelesaian masalah secara adil dan kekeluargaan antara kedua belah pihak. Tujuan kita hanya satu untuk membawa korban riba kembali kejalan yang benar," tambahnya.

Kedepan komunitas BTR tidak hanya melakukan fungsi dakwah dan pendampingan penanganan kasus saja namun akan memaksimalkan fungsi sosial. Kegiatan sosial yang dilakukan diantaranya memberikan bantuan permodalan bagi umkm yang usahanya terdampak kasus riba. Selain itu BTR juga akan menyatukan ekonomi umat untuk mencapai tujuan kesejahteraan bersama. (Git)