Ragam Editor : Ivan Aditya Rabu, 21 Desember 2016 / 07:50 WIB

Peradaban Kosmopolitan

PERADABAN adalah ruang bagi manusia untuk dapat mengaktualisasikan potensi kemanusiaannya, seperti bahasa, ilmu pengetahuan, seni, teknologi, sosial, ekonomi, politik dan relijiusitas. Tanpa peradaban, manusia tak ubahnya seperti benda yang telah selesai atau laksana binatang tanpa nilai keluhuran. Dan berbicara peradaban, umat Islam boleh merasa mujur dalam dua hal. Pertama, secara normatif, tak sedikit ayat-ayat Alquran membentangkan ajaran dan prinsip tentang bagaimana membangun peradaban. Kedua, secara historis, pada masa lalu, umat Islam relatif berhasil membangun peradaban terbuka, toleran dan mencintai ilmu pengetahuan.

Secara normatif, Alquran menyuruh umat Islam menegakkan peradaban yang adil (Q.S. 04:135), meng-Esakan Tuhan (Q.S. 16: 9), toleran (Q.S. 109: 1-6), terbuka (Q.S. 49:13), mencintai ilmu pengetahuan (Q.S. 58: 11), dan menghindari berbuat kerusakan (Q.S. 02: 11). Q.S. 21: 106 merupakan salah satu sumber inspirasi peradaban penuh rahmat. Suatu peradaban yang penuh kasih (rahman) dan sayang (rahim). Sebagai sifat Tuhan, Rahman adalah kasih yang meliputi seluruh semesta, terjadi secara terus menerus, untuk semua makhluk tanpa kualifikasi apapun. Sedangkan Rahim adalah sayang yang terjadi secara berulang-ulang sebagai respons atas tindakan seseorang dengan kualifikasi tertentu (Rahardjo, 1996).

Peradaban tersebut relatif berhasil dipraktikkan umat Islam pada masa lalu. Peradaban ini, secara geografis, membentang di sebagian besar daratan Asia, sebagian sedang di Afrika dan sebagian kecil di Eropa. Secara kronologis, peradaban ini bertahan kurang lebih 7 abad, dari abad 7-14 M. Secara kualitatif, peradaban tersebut menandai capaian terbaik di berbagai bidang kehidupan. Di bidang ilmu pengetahuan, ia menjadi pusat intelektual dunia, tempat yang dituju para sarjana dari negeri-negeri yang jauh, memiliki observatorium astronomi, rumah sakit, sekolah dan lembaga penelitian (Hoodbhoy, 1996).

Di bidang teknis dan teknologi, berbagai ilmu empiris berkembang pesat, seperti kedokteran, astronomi, pertanian, ilmu bumi, ilmu ukur, ilmu bangunan dan lain-lain. Di bidang sosial-politik, ia menjadi kosmopolitan, suatu peradaban yang menghargai dan mengolah berbagai capaian peradaban besar lain seperti Yunani Kuno, Persia, Mesir, India dan China. Peradaban yang dimiliki dan dikembangkan bersama tanpa melihat ras, suku, daerah dan agama (Madjid, 1997).

Konteks Kekinian

Pada masa kini, umat Islam menghadapi problem peradaban yang tidak kecil dan ringan. Pertama, 'Dunia Islam' praktis merupakan kawasan bumi yang terbelakang di antara penganut-penganut agama besar. Negerinegeri Islam jauh tertinggal oleh Eropa Utara, Amerika Utara, Australia dan Selandia Baru yang Protestan; oleh Eropa Selatan dan Amerika Selatan yang Katolik Romawi; Oleh Eropa Timur yang Katolik Ortodoks; oleh ‘Israel' yang Yahudi; oleh India yang Hindu; oleh Cina, Korea Selatan, Hongkong dan Singapura yang Budhist-Konfusianis; oleh Jepang yang BudhisTaois dan oleh Thailand yang Budhis (Madjid, 1997).

Kedua, kita tidak bisa bicara lagi Islam sebagai peradaban tunggal, homogen dan monolitik, baik secara politik, sosial dan budaya (Bennet, 2005). Secara politik, peradaban Islam tidak lagi berada di dalam satu payung tunggal ideologi dan itu sesuatu yang mustahil diwujudkan di dalam dunia postmodern yang semakin menghargai pluralitas dan lokalitas. Secara sosial-budaya, Islam telah bertemu dengan berbagai tradisi di penjuru dunia dan melahirkan ragam wajah Islam. Ketiga, tantangan peradaban kontemporer lebih bervariasi, seperti hak asasi manusia, gender, lingkungan, dan demokrasi. Juga persoalan global, seperti terorisme, imigran, perdagangan manusia, perbudakan modern, dan pemanasan global.

Hal ini membutuhkan respons secara mendasar dan komprehensif. Tiga hal dapat dilakukan. Pertama, menghayati kembali relevansi Alquran untuk konteks kekinian. Diperlukan studi Alquran secara kritis, komprehensif dan kontekstual. Kedua, meneladani Peradaban Islam pada masa lalu. Watak kosmoplitan, seperti terbuka, toleran, ramah dan cinta ilmu pengetahuan masih sangat relevan untuk masa kini. Ketiga, belajar dari jatuh bangunnya setiap peradaban di dunia, baik pada masa lalu dan masa kini.

(Mukalam. Peneliti Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 20 Desember 2016)