Gaya Hidup Editor : Agung Purwandono Minggu, 13 November 2016 / 10:17 WIB

Konsultasi Kesehatan Jiwa : Kecemasan dan Ketergantungan Benzodiazepin

RON seorang pemuda, 30 tahunan, bersama teman-temannya bekerj mendirikan suatu Event Organizer (EO). Ron menjadi ketuanya. Bekerja sebagai EO rupanya banyak tantangan. Selain banyak saingan untuk EO pertunjukan musik di kota besar, juga resikonya cukup berat.

Jika pertunjukan musik gagal, tidak mencapai target, modal cukup besar yang disediakan EO tak akan kembali. EO bangkrut. Bahkan ada EO yang bunuh diri. Melindaskan diri ke sepur.

Ron sering mengalami kecemasan. Kegelisahan. Ketakutan. Tidak percaya diri. Mau tidur sulit karena cemas. Bangun tidur saja sudah cemas. Ron cukup tersiksa dengan ini. Suatu ketika Ron diberi temannya tablet anticemas. Golongan benzodiazepin jenis tertentu. Temannya seorang debt-collector. Dengan itu temannya bisa menghilangkan kecemasannya dan percaya diri menagih utang pada si pengutang besar yang punya pengawal juga.

Dengan obat itu kecemasan Ron bisa mereda. Ron bisa bangkit. Percaya diri. Bisa mantab bekerja seberapapun tantangannya. Tapi temannya Cuma memberi satu emplek, 10 tablet, kemudian tambah lagi 10 tablet. Sudah itu habis. Ron diantar temannya membeli ke sipenjual. Tapi si penjual sudah ketangkap polisi. Akhirnya Ron mencari dokter (psikiater) yang mau meresepkan obat benzodiazepin jenis tertentu itu.

Psikiater memberikn konsultasi bagaimana mengatasi kecemasannya tanpa obat. Ron tidak mau. Ia memaksa meminta obat itu. Akhirnya psikiater memberikan tapi hanya sekali resep untuk 2mg. Sesudah itu Ron harus berhenti. Tapi Ron tak bisa berhenti.

Ia mencari psikiater lain. Psikiater lain memberi Ron obat anticemas golongan benzo jenis lain. Tapi Ron menolak. Ia sudah cocok dengan obat itu. Ia tak bisa hidup tanpa obat itu. Psikiater ini memberi Ron obat yang dimintanya itu tapi dalam kapsul. Dicampur obat lain supaya Ron tidak ketergantungan. Ron menolak. Katanya kalau dikapsul bikin diare, lemes. Dan macam-macam lagi. Kemudia Ron mencari dokter bukan psikiater yang mau meresepi benzodiazepin jenis tertentu itu tapi dokter-dokter lain menolak. Bukan wewenangnya.

Ron gentayangan terus mencari siapa saja yang bisa memberi obat itu. Bila obat itu dihentikan, Ron menggigil seperti kedinginan, dan gemetaran, tak bisa berbuat apa-apa. Ron sudah ketergantungan atau adiksi dengan obat benzodiazepin. Saya tak akan menyebut obat golongan benzodiazepin jenis tertentu itu karena mungkin anda akan mencari dan mencobanya. Mungkin pula anda sudah mengkonsumsinya.

Tahun 1997 masyarakat dibuat kaget dengan maraknya Narkoba (Napza). Waktu itu memang lagi boomingnya heroin (putauw). Para pecandu sebagian besar anak-anak muda, mahasiswa, ada dimana-mana. Benar-benar nggegirisi. Telepon atau permintaan ceramah Narkoba saya terima tiap hari.

Sebulan saya bisa ceramah 5-6 kali. Bahkan habis praktek malampun saya ditunggu. Oleh sekolah-sekolah SMP, SMA dan kampus-kampus. Organisasi masyarakat, di kaampung-kampung, balaai kelurahan maupun hotel berbintang. Masyarakat ingin tahu apa itu Narkoba. Mengapa anak-anak memakai itu. Mengapa menyuntik terus tiap hari sampai meninggal.

Tahun 2010 heroin, entah kenapa, penyelundupannya ke negara kita, atau pembikinannya disini, dihentikan. Para pecandu jadi berhenti. Karena “gejala putus zat” yang menyiksa, hanya dialami 3-7 hari. Sesudah itu karena “barang” tak ada lagi, ya sembuh total. Penularan HIV via jarum suntik ya menurun drastis karena tak ada lagi jenis Narkoba yang disuntikkan.

Tahun 2011 permintaan cermah bahaya Narkoba ke saya menurun drastis sampai tak ada lagi. Masyarakat sudah cukup tahu Narkoba. Sudah bosan dengan Narkoba. Tapi jangan gembira dulu. Para pecandu heroin (yang masih hidup) pindah ke Narkoba jenis lain, yaitu sabu, ganja, dan miras oplosan.  Tapi para penyelunsup sabu, para bandar dan kurir belum sempat mengedarkan sudah ketangkap polisi (benar-benar salut untuk pak polisi).

Demikian juga ganja (canabis). Sedang miras oplosan sudah banyak korbannya yang meninggal. Kalau tidak buta seumur hidup. Jadi para pecandu terpaksa pindah lagi ke “pil koplo” atau obat anticemas (benzodiazepin). Pil koplo dari tahun 1970, 1980, 1990, 2010 sampai sekarang beda-beda. Sekarang ini yang ngetrend ya benzo jenis tertentu itu tadi.

Sesungguhnya baik pada Ron dan temaannya yang tidak bisa mengatasi kecemasannya, maupun pada paara pecandu Napza “pindahan” ke benzodiazepin, secara psikodinamika ada sesuatu pada masa awal kehidupannya. Kemungkinan pada masa balita, hubungan dengan tokoh ibu tidak kokoh. Tidak terjadi “object relation” timbal balik ibu anak yang baik.

Akibatnya “kepercayaan dasar” tidak terbentuk. Jadilah “mistrust”. Anak itu akan tumbuh berkembang dengan tidak adanya kepercayaan pada orang lain (dunia). Ia akan tumbuh diliputi kecemasan karena tidak ada yang bisa dipercayainya di dunia ini. Satu hal yang tepat untuk menutup kekurangan itu adalah zat adiktif. Dan benzodiazepin adalah obat anticemas dengan daya adiksi yang cukup tinggi. Zat ini menjadi Narkoba (Napza) sekarang ini.

Sesungguhnya ada banyak cara untuk menaklukkan kecemasan tanpa obat yang menimbulkan adiksi. Meditasi 3 menit dengan duduk tenang dan memusatkan perhatian pada keluar masuknya nafas yang dalam. Latihan yoga, juga dengan pengaturan nafas yang berirama. Dzikir 3 menit sehabis sholat degan mengatur nafas yang berirama. Gerak badan secara kalem teratur dengan mengatakan “relaks....santai,,,,relaks....santai ...dst.

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Cemas Menyeluruh yang pertama adalah “adanya pikiran bahwa akan terjadi musibah, bencana, malapetaka yang menimpa diri atau kelurganya”. Nyatanya musibah itu tak pernah terjadi. Jadi kecemasan tiap hari itu timbul karena imajinasi. Khayalan negatif semata.

Pikiran atau imajinasi “bagaimana jika” adaalah gambaaraan mental tentang bencana atau musibah tersebut. Karena pikirn dan tubuh adalah “dua sisidari sekeping mata uang”, khayalan tentang “bagaaimana jika” secara simultan menggambarkan bencana yang sama. Dan ini akan memutar mesin emosi menuju kecemasan tinggi. Kebanyakan orang bisa membangkitkan kecemasan dengan berpikir tentang kejadian menakutkan, bencana, musibah. Tapi hal itu juga berarti bahwa kita bisa mengurangi aatau menghindari kecemasan berlebihan itu dengan membalik pikiran dan gambaran mental kita.

Salah satu cara terbaik untuk membalik penyebab kecemasan “bagaimana jika” adalah dengan menambahkan kata “jadi” di awal pemikiran atau melawan gagasan “bagaimana jika” dengan respons yang tenang, seperti “baiklah kalau begitu”. Misalnya “bagaimana jika anakku nanti sepeda motornya tabrakan dengan truk di jalan”.

Tepat di awal pemikiran kita sudah berkata “jadi” atau “baiklah kalau begitu aku akan menyuruhnya mengucap bismillah sebelum berangkat dan berkali-kali ketika naik motor di jalan”. Ia pasti selamat. Ini akan dengan cepat menghilangkan kecemasan yang akan timbul.

Dengan memikirkan hal yang menenangkan atau membayangkan kejadin positif, anda dapat segera menurunkan intensitas kecemasan. Tapi manajemen kecemasan, seperti semua ketrampilan lain, membutuhkan proses belajar dan latihan untuk menguasainya. Namun bila anda mampu melatih diri dengan telaten, anda akan bebas dari gangguan cemas maupun obat anticemas benzodiazepin seumur hidup. (dr Inu Wicaksana SpKJ (K) MMR, artikel ini dimuat di Harian KR edisi Minggu 13 November 2016)