Jateng Editor : Agus Sigit Jumat, 12 Juli 2019 / 13:46 WIB

Calon Haji Tertua Purworejo

Kebulatan Tekad 'Terbangkan' Mbah Djeminten ke Tanah Suci

PURWOREJO, KRJOGJA.com - Djeminten masih sibuk ketika sejumlah warga mendatangi rumahnya di RT 02 RW 02 Desa Tlogorejo Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo. Sambil berbincang dengan tamu, Ia menerima beberapa baju yang sudah rapi dilipat anaknya, lalu dengan cekatan memasukkannya ke dalam koper oranye berlogo maskapai Garuda Indonesia. Tidak begitu banyak isi dalam tas itu. Setelah tertata rapi, ia tutup tas yang akan menemaninya selama berada di tanah suci.

Tidak tampak guratan lelah pada raut wajah Djeminten. Kendati dari penampilannya, perempuan itu memang sudah tidak muda lagi. Djeminten berumur 96 tahun dan menjadi calon jamaah haji tertua Kabupaten Purworejo untuk musim keberangkatan 2019. "Saya lahir tahun 1922," kata Djeminten kepada KRJOGJA.com, Jumat (12/7).

Usia lanjut tidak menyurutkan semangat Djeminten untuk berangkat haji. Nenek 30 cucu dan 35 cicit itu sumringah mempersiapkan keberangkatannya. "Besok Minggu mau pengajian pamitan haji, insyaallah tanggal 4 (Agustus-red) berangkat, ikut kloter 96," ujarnya.

Menunaikan haji merupakan ibadah yang paling ditunggu Djeminten. Ia mengaku ingin melengkapi hidupnya dengan menunaikan rukun Islam kelima itu.

Djemintan mengaku tidak ada persiapan khusus untuk bekal beribadah haji. "Ya makan nasi, makanan kampung tidak pakai pengawet, juga tidak berpikir macam-macam. Semoga bisa menjalankan rukun haji dengan baik dan kembali ke Indonesia berkumpul dengan anak cucu," terangnya.

Selain itu, perempuan petani itu mengatakan tidak akan muluk-muluk berdoa di Baitullah. Ia hanya ingin anak cucunya bisa sukses menjalani hidup. "Saya juga akan doa semoga anak cucu bisa menyusul berangkat haji," tegasnya.

Djeminten pernah menginjakkan kaki di tanah suci sekitar tahun 2011 ketika berangkat umroh. Tapi pulang dari Mekah, Djeminten malah semangat ingin kembali ke Mekah namun lewat jalur haji. "Awalnya bingung karena antrenya lama, padahal ibu saya sudah usia lanjut," ucap anak Djeminten, Sri Wuryani (49).

Pada saat itu, katanya, antrean haji sudah di atas tahun 2020. Keluarga sempat mendapat tawaran mendaftarkan Djeminten haji lewat kabupaten lain. Namun karena pertimbangan administrasi dan keinginan Djuminten berangkat dari Purworejo, tawaran tidak diambil.

Lalu keluarga mendengar informasi kebijakan mendahulukan keberangkatan calon jamaah berusia lanjut. Akhirnya Djeminten dan anaknya Mujiati (67) sebagai pendamping, mendaftar haji tahun 2016. "Lalu kami ajukan agar bisa berangkat lebih awal, akhirnya berhasil tahun 2019," tuturnya.

Mujiyati menambahkan, secara fisik Djeminten adalah perempuan yang sehat. Ia hanya mengalami pengurangan fungsi pendengaran karena faktor usia. Djeminten selalu mengisi hari-harinya dengan beraktivitas ringan, mulai menyapu, membersihkan perabot hingga mencabut rumput di halaman.

Menurutnya, kebiasaan yang dinilai jadi resep Djuminten selalu sehat adalah sikap terbuka dan apa adanya. Perempuan itu juga selalu memiliki pikiran yang positif. "Ibu saya itu istilahnya 'thok melong', kalau ada sesuatu apalagi hal yang tidak pas, pasti diungkapkan, sering dianggap cerewet, tapi tidak pendendam, yakni setelah disampaikan ya selesai, juga. Hal itulah yang membuat kami bangga sebagai anak-anaknya," tandasnya. (Jas)