DIY Editor : Danar Widiyanto Jumat, 12 Juli 2019 / 03:10 WIB

Pameran Keliling di Wukirsari, Dekatkan Masyarakat Perdesaan dengan Museum

BANTUL, KRJOGJA.com - Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta bekerja sama dengan Pemerintah Dusun Nogosari, Desa Wukirsari Imogiri Bantul menggelar pameran keliling museum dan Merti Dusun Nogosari di Joglo Wisata Wayang Desa Wukirsari Imogiri, 9-13 Juli 2019. Kegiatan ini mengangkat tema Merawat Kebhinnekaan Memperkokoh Nasionalisme' dan dibuka oleh Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih. 

Beberapa koleksi Museum Benteng Vredeburg ditampilkan dalam pameran seperti pedang milik Duljiman, salah satu anggita Batalyon 323 Divisi Siliwangi. Tahun 1949, Duljiman bergabung dalam Wehrkreise III di daerah Bangunjiwo. Selain itu dipamerkan pedang milik Wakir yang pernah digunakan mengeksekusi mata-mata Belanda. Koleksi lain jas hujan, peralatan dapur umum, gogok dan poci, lampu gantung, mata uang ORI Jogja, lumpang, ransel dan patung dada Sudirman. 

Pameran juga diramaikan berbagai macam pentas seni dan hiburan. Selain itu ada pameran partisipan berupa stan-stan kuliner dan tidak ketinggalan partisipasi komunitas sahabat museum. Setiap hari pameran berlangsung pukul 08.00-21.00 WIB dan akan ditutup dengan pementasan wayang pada 13 Juli. 

Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Drs Suharja mengatakan, tujuan pameran keliling museum ini antara lain terwujudnya partisipatoris dari masyarakat yang memiliki minat untuk menjadi mitra museum dalam berbagai kegiatan. Selain itu terwujudnya masyarakat perdesaan yang paham tentang sejarah sehingga memiliki kemampuan berpikir bijak berdasarkan pelajaran yang diambil dari sejarah. "Tak kalah penting mewujudkan masyarakat berkarakter dan berjiwa nasionalisme tinggi," ujar Suharja kepada KRJOGJA.com,  Kamis (11/7/2019). 

Menurut Suharja, sejalan dengan perkembangan paradigma ilmu permuseuman, maka Museum Benteng Vredeburg selalu mencari peluang untuk dapat lebih melibatkan masyarakat dalam pengembangan museum dan kegiatan-kegiatannya. Museum mulai menerapkan paradigma baru ilmu permuseuman yaitu paradigma paetisipatori. "Pameran keliling ini juga sebagai upaya mendekatkan masyarakat perdesaan dengan museum," pungkasnya. (Dev)