DIY Editor : Agung Purwandono Kamis, 11 Juli 2019 / 21:30 WIB

Macapat Itu Warisan Para Wali untuk Berdakwah

BANTUL, KRJOGJA.com – Macapat sejatinya adalah warisan para wali dalam berdakwah melalui tembang. Sayang banyak generasi muda yang menilai macapat sebagai sesuatu yang musyrik.

 “Generasi muda banyak yang beranggapan bahwa macapat itu musyrik, mereka tidak tahu bahwa yang menciptakan itu para wali yang digunakan untuk menyiarkan da’wah melalui macapat,” ujar Romo Projo Swasono, abdi dalem Keraton Yogyakarta saat ditemui dalam pertunjukan Macapat Panggung Raras Budhoyo menjadi rangkaian acara Festival Kebudayaan Yogya 2019 venue lapangan Patmasuri, Bantul, Rabu (10/7/2019).

Sebanyak 6 tembang macapat dibawakan langsung oleh pencipta sekaligus abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yakni Romo Projo Swasono dan  9 orang dari Paguyuban Pamulangan Sekar Macapat.

Tembang macapat dilantunkan dengan halus tanpa sentakan, salah satunya yakni kidung pandonga murih raharjaning kawula Republik Indonesia yang berisi harapan dan doa untuk kesejahteraan Indonesia.  

Menurut Romo Projo,  macapat itu harapan, doa, dan seni suara yang menggunakan syiir basa jawa yang harus terus dilestarikan dan disukai terutama kaum muda. Kenyataannya yang menggeluti kebudayaan ini mayoritas berumur 60 tahun ke atas.

Romo Projo berharap kepada generasi muda agar dapat melestarikan kebudayaan ini, dimulai dengan suka dulu, setelah suka baru belajar dengan konsisten untuk terus mempertahankan macapat ini. (Firma Firdausi-Mahasiswa magang Universitas Negeri Malang)