Kisah Inspiratif Editor : Agung Purwandono Jumat, 12 Juli 2019 / 01:17 WIB

Usia 78 Tahun, Taufik Punya Alasan Jadi Penjual Asongan di Tugu Yogya

TAUFIK, lelaki keriput berumur 78 tahun itu berjalan lamban sembari menawarkan dagangan asongan kepada wisatawan di sekitar Tugu Yogyakarta. Tubuhnya renta, punggung  yang sedikit membungkuk, membuatnya hanya berjalan menawarkan dagangan sekitar satu menit saja, lalu kembali duduk sambil menunggu pembeli menghampiri.

Pendapatan yang tidak tentu dalam setiap harinya tidak membuat Taufik mengeluh dan malas untuk bekerja. Ia punya alasan tersendiri tetap menjadi penjual asongan meski usia telah renta.

Demi menghidupi keluarganya Taufik rela berjalan kaki tertatih setengah jam dari Bangirejo Rt 40 Rw 1, Tegalrejo menuju Tugu Yogyakarta. “Hitung-hitung olah raga, dari pada di rumah tidak ada kerjaan, bosan, nanti malah sakit,” ujar Taufik mengungkapkan alasannya tetap berjualan dan kenapa memilih berjalan kaki ke Tugu Yogya.

Taufik tidak pernah mengenyam bangku sekolah, namun beliau tidak rela jika kedua anaknya tidak bersekolah.Walaupun tidak tahu nama universitas di mana anaknya kuliah, Taufik tetap semangat untuk berjualan demi masa depan anaknya yang cerah.

Sembari menghitung lembaran rupiah Taufik berkata “Alhamdulillah mbak, hari ini dapatnya lumayan soalnya lagi rame pengunjung”. Dalam sehari Taufik dapat menghasilkan tiga puluh hingga lima puluh ribu rupiah bergantung keramaian orang yang berkunjung di sekitar tugu.

Dahulu Taufik adalah tukang becak  dari tahun 1966-2010, namun karena tubuh yang tak lagi bertenaga, Taufik memutuskan untuk menjadi penjual rokok keliling. Menjadi tukang becak maupun penjual rokok  Taufik memilih tempat mangkal yang sama yaitu di sekitar Tugu Pal Putih Yogyakarta.  

Cuaca malam kota Yogyakarta yang dingin tidak membuat semangat kerja Taufik pudar. Walau hanya mengenakan baju tipis dan celana panjang, Taufik berangkat dari rumahnya jam 6 sore dan pulang  jam 12 sampai jam 2 malam bergantung keramaian pengunjung di sekitar Tugu Yogyakarta.

Taufik memilih bekerja malam hari karena saat siang hari banyak toko rokok yang buka di sekitar tugu, maka pesaing dagangannya menjadi lebih banyak. Berbeda dengan malam hari toko rokok telah banyak yang tutup. Menurut Taufik walaupun tidak pernah belajar ekonomi, ia cukup memahami strategi pemasaran.

Perjuangan Taufik selama puluhan tahun tidak sia-sia. Setelah lulus kuliah, kedua anaknya kini sudah bekerja. Meskipun sudah tidak lagi membiayai anak, Taufik tetap semangat untuk bekerja setiap hari. Ia tidak ingin berdiam diri di rumah.

Beliau tidak pernah malu menjadi penjual rokok maupun menjadi tukang becak. Menurut Taufik melakukan pekerjaan apapun asal halal tidak perlu malu, sudah sarjana sekalipun tidak ada alasan untuk malu bekerja serabutan. "Hidup harus bermanfaat menjadi apapun itu, asal tidak menyusahkan orang lain," katanya.

(Anisa’u Fitriyatus Sholihah, Mahasiswa Magang Universitas Negeri Malang)