Peristiwa Editor : Ivan Aditya Kamis, 11 Juli 2019 / 12:32 WIB

Jemaah Tidak Perlu Bawa Alat Masak dari Tanah Air

MADINAH, KRJOGJA.com -  Jemaah haji diminta untuk tidak perlu membawa perlengkapan masak ataupun bahan masakan dari indonesia. Pasalnya, pemerintah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) sudah menyediakan kebutuhan makanan selama di Arab Saudi, baik di Madinah dan Mekkah maupun saat fase Arafah, Muzdalifah, Mina (Armuzna) pada puncak haji.

"Pemerintah sudah siapkan semuanya untuk kebutuhan di Saudi. Selain konsumsi makanan, juga kami siapkan paket perlengkapan konsumsi, seperti kopi, kecap, sambal, gula, sendok, gelas dan lainnya yang sudah dikemas rapi," ucap Kepala Bidang Katering PPIH 2019 Ahmad Abdullah saat mendampingi tim MCH PPIH 2019 di beberapa perusahaan katering di Madinah, Rabu (10/07/2019) petang waktu setempat.

Dalam kesempatan tersebut, Kedaulatan Rakyat yang menjadi bagian MCH 2019 diajak melongok dua perusahaan katering di Madinah, Oriental Savoury dan Nooha. Keduanya menjadi bagian dari 15 perusahaan katering di Madinah yang terpilih untuk menyiapkan konsumsi jemaah haji Indonesia.

"Untuk dipilih, minimal luasnya harus 500 meter persegi. Harus menggunakan chef indonesia dan tidak melayani katering untuk negara lain," sambung Ahmad.

Pengawasan menjadi bagian penting pada proses produksi untuk semua bumbu dan bahan yang digunakan. Nantinya ketika dibagikan, juga akan kembali diperiksa seksi katering di tiap hotel sebelum disajikan bagi jemaah.

Dalam sehari, tiap perusahaan katering di Madinah paling tidak mampu menyediakan 10 ribu pack makanan. Untuk jatah makan sendiri disediakan dua kali sehari tiap siang dan malam sebanyak 18 kali selama di Madinah.

Jumlah tersebut berbeda dengan jatah makan ketika di Mekkah yang mencapai 40 kali. Untuk di Mekkah, PPIH 2019 bekerjasama dengan 36 perusahaan karena harus memenuhi porsi lebih banyak saat semua jemaah berkumpul untuk melakukan prosesi haji.

"Tapi tiga hari sebelum wukuf, jatah makan kami hentikan karena perusahaan katering tidak berani spekulasi dengan kepadatan jemaah," ungkap Ahmad.

Khusus untuk fase Armuzna, kebutuhan makanan akan disuplai 15 perusahaan katering. Sisanya akan dipenuhi pihak Muassasah Asia Tenggara sehingga jemaah dipastikan mendapat pelayanan yang baik.

Petugas katering menurut Ahmad memegang teguh prinsip tepat jumlah, distribusi, menu dan rasa. Makanan yang disajikan juga diupayakan mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori untuk kebutuhan peribadatan dengan rumus 2345, yakni dua kali telur, tiga kali daging, empat kali ayam dan lima kali ikan. Untuk konsumsi ikan memang disarankan sejumlah pihak, seperti Kemenkes maupun DPR yang tinggi nilai gizinya.

Untuk kebutuhan menu zonasi, pihak katering sudah menyiapkan sejak awal persediaan bahan baku yang dibutuhkan. Hanya saja pihaknya belum mampu menyiapkan kebutuhan makanan yang berkuah untuk konsumsi jemaah.

"Terus kami sempurnakan ke depan. Untuk rasa mudah-mudahan sudah sesuai dengan selera nusantara yang diharapkan," sambungnya.

Guna menghindari adanya kemungkinan makanan basi, pihak katering juga berupaya menyesuaikan waktu distribusi. Jika biasanya makanan terdistribusi pada pukul 17.00-19.00 waktu setempat, diundurkan menjadi pukul 19.00-22.00 WIB.

"Biasanya banyak jemaah yang mengejar Arbain sehingga baru kembali ke hotel setelah Isya antara pukul 22.00 WIB. Tapi kami himbau, agar makanan dikonsumsi sebelum jam 12 malam. Sebab jika terlalu lama tidak bagus dikonsumsi," jelasnya. (Feb)