Pendidikan Editor : Danar Widiyanto Rabu, 10 Juli 2019 / 20:50 WIB

Di Indonesia, Penelitian Berorientasi Paten Ternyata Masih Rendah

YOGYA, KRJOGJA.com - Penelitian yang berorientasi paten dari para akademisi di Indonesia masing rendah. Kebanyakan penelitian di lingkungan perguruan tinggi hanya tersimpan rapi di perpustakaan kampus, belum didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Padahal HKI akan memberikan nilai tambah (kesejahteraan) bagi pemegang paten sekaligus mendukung perekonomian negara.

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI, Dr Freddy Harris ACCS dalam Seminar Nasional Kekayaan Intelektual bertema 'Peran Kekayaan Intelektual dalam Membangun Ekonomi Negara' di Auditorium Universitas Janabadra (UJB), Jalan Tentara Rakyat Mataram, Badran Yogyakarta, Rabu (10/7/2019). Pembicara lain Rektor 
UJB Dr Ir Edy Sriyono MT dan Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM, Kanwil Kemenkumham DIY, Monica Dhamayanti.

Menurut Freddy, dana riset Indonesia 2018 meningkat dari Rp 2,1 triliun menjadi Rp 2,45 triliun. Meskipun peringkat Global Innovation Index Indonesia terus meningkat, namun masih berada di peringkat ke-85 dari 128 negara. Posisi Indonesia masih di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam dan Brunei Darussalam serta Filipina. Kelemahan Indonesia salah satunya adalah sisi output inovasi, yaitu paten dari dalam negeri. "Indonesia harus lebih berupaya keras dalam meningkatkan paten agar tidak ketinggalan dengan negara-negara ASEAN," tuturnya.

Guna mendukung kekayaan intelektual perlu kolaborasi dari peguruan tinggi, pemerintah, industri dan institusi finansial. Dijelaskan Freddy, tugas perguruan tinggi dengan segenap sumber daya manusia (dosen, mahasiswa) yang dimiliki yakni melaksanakan riset untuk menghasilkan inovasi produk teknologi. Sementara pemerintah memberikan komitmen yang jelas dalam pembangunan ekonomi berbasis kekayaan intelektual serta memberikan dukungan kebijakan dan aturan. Kemudian industri melaksanakan pengembangan teknologi lebih lanjut dan institusi finansial memberikan skema pendanaan untuk pengembangan teknologi.

Rektor UJB Dr Ir Edy Sriyono MT mengatakan, Indonesia sangat membutuhkan sumbangan hak paten bagi kemajuan negara. Hal tersebut sangat potensial disumbangkan oleh kalangan perguruan tinggi melalui kegiatan penelitian. "Kreativitas dan inovasi merupakan hasil dari kekayaan intelektual yang memberikan dampak positif bagi pembangunan negara, salah satunya akan mendorong pembangunan perekonomian suatu negara," ujarnya. (Dev)