DIY Editor : Ivan Aditya Selasa, 09 Juli 2019 / 04:19 WIB

Program Studi Komunikasi Unisa Siap Perangi Hoax

YOGYA, KRJOGJA.com - Mahasiswa adalah warga asli dunia digital atau native. Mau tidak mau harus belajar bagaimana situasi masyarakat digital saat ini.

Hal tersebut dikemukakan Dekan Fakultas Ilmu Ekonomi, Ilmu Sosial, dan Humaniora Universitas Aisiyah Yogyakarta Dr Tri Hastuti Nur Rochimah MSi saat membuka Halfday Basic Workshop bertajuk ‘Hoax Busting and Digital Hygiene’ di kampus terpadu Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta pada hari jumat 5 Juli 2019 yang lalu. Kegiatan ini merupakan kerjasama Program Studi Ilmu Komunikasi Unisa dengan Google Initiative, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Internews.

Tri Hastuti berharap peserta yang sebagian besar mahasiswa bisa menjadi agen-agen anti hoax. Apa yang dipelajari dari workshop adalah bagian dari literasi digital.

Ketua Program Studi Komunikasi Unisa Wuri Rahmawati MSc mengatakan pelatihan ini sangst bermanfaat untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi agen pencerah di lingkungan masyarakat. "Mahasiswa Program Studi Komunikasi Unisa siap untuk gelorakan say no to hoax," kata Wuri.

Lebih lanjut diungkapkan Wuri, mahasiswa program studi komunikasi Unisa Yogyakarta sebagai warga Muhammadiyah-‘Asyiyah memiliki kewajiban untuk menjadi gatekepper (penyaring informasi) yang semakin terkikis akibat konvergensi media baru yang terus berkembang. Perkembangan ini juga harus direspon dengan meningkatkan kualitas lulusan dengan memberikan pelatihan yang bermuara pada praktek dan aplikatif.

Selama workshop yang dipandu trainer tersertifikasi Google, Inggried Dwi Wedhaswary (Kompas.com) dan Agung Purwandono (KRjogja.com) peserta dibekali tentang konsep hoax busting. Yaitu bagaimana menerima, menyeleksi, dan menyaring semua informasi yang diterima untuk tidak disebarkan terlebih dahulu sebelum dilakukan verifikasi.

Pelatihan yang diikuti sekitar 30 peserta ini juga diisi dengan praktik menggunakan tools atau alat untuk mengidentifikasi apakah sebuah informasi mengandung dis dan misinformasi atau tidak. (*)