DIY Editor : Ivan Aditya Rabu, 03 Juli 2019 / 18:14 WIB

Gunung Merapi, Merbabu dan Menoreh Diusulkan Jadi Cagar Biosfer

YOGYA, KRJOGJA.com - Kawasan Gunung Merapi, Merbabu, dan Menoreh akan diusulkan ke UNESCO sebagai Cagar Biosfer. Biosfer adalah bagian luar dari planet bumi yang mencakup udara, daratan, dan air yang memungkinkan kehidupan dan proses biotik berlangsung atau bagian atmosfer paling bawah dekat permukaan bumi, tempat tinggal makhluk hidup baik manusia maupun flora dan fauna.

Usulan Cagar Biosfer tersebut sebenarnya sudah dipersiapkan sejak dua tahun terakhir. Apabila nantinya usulan tersebut disetujui UNESCO, Cagar Biosfer itu akan jadi yang pertama di Jawa Tengah dan DIY. Adapun untuk memasukkan nominasi tersebut diberikan batas waktu (deadline) sampai September 2019.

“Saat ini Indonesia sudah memiliki 16 Cagar Biosfer yang diakui UNESCO. Sementara untuk total di seluruh dunia ada 701 Cagar Biosfer yang diakui UNESCO dan tersebar di 124 negara. Mudah-mudahan saja usulan kami terkait Kawasan Merapi, Merbabu dan Menoreh sebagai Cagar Biosfer bisa disetujui dalam Sidang International Coordinating Council of the Man and the Biosphere UNESCO ke-32 pada 2020,” kata Ketua Komite Nasional MAB UNESCO Indonesia Prof Enny Sudarmonowati.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI itu mengungkapkan, Kawasan Gunung Merapi, Merbabu dan Menoreh diusulkan jadi Cagar Biosfer ke UNESCO karena dinilai memenuhi sejumlah persyaratan untuk menjadi Cagar Biosfer. Di antaranya keunikan biodiversitas, biogeografi, ekosistem, dan kultur. Selain itu, flora fauna serta memiliki potensi pengembangan pembangunan berkelanjutan di wilayah tersebut.

“Untuk bisa lolos menjadi Cagar Biosfer di UNESCO tidak mudah. Salah satunya harus ada jaminan di Cagar Biosfer tersebut tidak mengalami kerusakan akibat ulah manusia. Khusus di Merapi, tantangan yang dihadapi adalah penambangan pasir sehingga harus diselesaikan,” terang Enny.

Menurut Enny, konsep Cagar Biosfer ada tiga fungsi, yaitu konservasi, pembangunan berkelanjutan, dan support untuk riset sains, teknologi, dan edukasi. Kawasan Merapi, Merbabu dan Menoreh yang diusulkan menjadi Cagar Biosfer seluas 250.000 hektare dengan kawasan inti konservasi seluas 12.000 hektare. Sementara sisanya dimanfaatkan untuk zona buffer dan zona penyangga transisi.

“Supaya bisa lolos sebagai Cagar Biosfer, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Di antaranya semua pihak di sekitar kawasan tersebut harus memberikan dukungan. Selain itu, diminta menyerahkan 10 tahun Management Plan Cagar Biosfer,” jelas Enny seraya menambahkan, Program Cagar Biosfer UNESCO sangat baik untuk pengelolaan berkelanjutan dan multipihak.

Kepala Bappeda DIY Budi Wibowo menambahkan, pihaknya bersama tim akan segera membuat rencana aksi untuk 10 tahun agar habitat bisa berjalan dengan baik, termasuk mensinkronkan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang sudah ada. “Salah satu kendala yang dihadapi untuk kawasan Gunung Merapi masih ada warga yang tinggal di zona merah (rawan bencana) dan soal penambangan pasir. Untuk itu dibutuhkan pendekatan persuasif,” ujar Budi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY Sutarto menyampaikan, sesuai arahan Gubernur, DIY memang perlu dipasarkan ke dunia internasional salah satunya melalui Cagar Biosfer. Menurut Sutarto, Gubernur DIY menyampaikan beberapa catatan untuk usulan tersebut, terutama kawasan yang menjadi hak privat masyarakat sehingga perlu sosialisasi secara all out kepada masyarakat. Intinya, Cagar Biosfer itu tidak akan menghalangi sektor-sektor itu untuk melaksanakan kebijakan masingmasing. (Ria/Ira)