Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 03 Juli 2019 / 18:10 WIB

Masih Banyak Warga Tolak Imunisasi, Ini Alasannya

>KARANGANYAR (KR)-<P> Penolak imunisasi menyampaikan berbagai alasan buah hati dibiarkan tanpa perlindungan vaksin kekebalan tubuh. Alasan itu disampaikannya ke Bupati Karanganyar saat orang nomor satu di Pemkab Karanganyar ini melakukan kunjungan di rumahnya di Desa Kemuning, Ngargoyoso, Selasa (2/7).

“Anak sulung pernah diimunisasi. Kali pertama enggak ada keluhan. Namun pada imunisasi kedua, badan panas tinggi. Beberapa bulan kemudian, imunisasi. Badan panas lagi dan tiga hari hanya menangis serta sulit tidur. Setelah itu, anak kedua dan ketiga enggak diimuniasi,” kata Tardi, warga Dusun Tanen Rt 01/Rw III Desa Kemuning, Ngargoyoso.

Bersama istrinya, ia menceritakan alasannya menolak imunisasi itu kepada Bupati Juliyatmono yang didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar, Cucuk Heru Kusumo serta petugas Puskesmas Ngargoyoso. Sebelumnya, Juliyatmono mengawali percakapan dengan menyapa dan menyampaikan maksud kedatangannya. Tim DKK membawa pula perangkat imunisasi dan lembar pernyataan bermaterai jika nekat menolak. Meski sudah dijelaskan manfaat imunisasi bagi anak, pendirian Tardi tak bergeming.

“Masih pikir-pikir. Masih ragu. Soalnya repot kalau anak rewel berhari-hari setelah disuntik. Padahal, saya kerja,” katanya.

Berlainan disampaikan Isni, seorang penolak imunisasi lainnya di desa tersebut. Phobia jarum suntik membuatnya memutuskan menjauhi vaksinasi.

“Suami membolehkan anak diimunisasi. Hanya saja saya itu takut sekali jarum suntik. Kalau saya saja takut, apalagi anak saya,” ujar wanita bercadar hitam ini.

Ia menanti suami, Takiudin, pulang dari bekerja, supaya mengantarkannya mengimunisasi anak.

Sedangkan di rumah pasangan suami istri Burhan-Nur di Rt 02/Rw III, resistensinya terhadap imunisasi cukup kuat. Tak hanya tiga anak mereka yang tidak diimunisasi, namun ratusan siswa di tempat Burhan mengajar, juga demikian.

Berdasarkan catatan DKK, kasus penolakan imunisasi terjadi di 3.215 bayi. Kunjungan bupati ke rumah mereka diharapkan mampu menyadarkan pemahaman salah.

“Diberi waktu sepekan berfikir. Kalau tetap menolak, diminta menandatangani surat pernyataan. Kalau ada masalah kesehatan dengan anaknya, bukan tanggungan pemerintah,” kata Juliyatmono.

Kepala DKK Cucuk Heru Kusumo mengatakan <I>home visit<P> penolak imunisasi oleh bupati dijadwalkan dua kali sepekan. Di Ngargoyoso terdapat 36 lokasi kunjungan, dimana 11 diantaranya di Desa Kemuning.

“Saat kinjungan akan dijelaskan mengapa anak panas setelah imunisasi. Itu reaksi lumrah dan setiap anak memiliki reaksi berlainan,” katanya.(Lim)