Kisah Inspiratif Editor : Danar Widiyanto Jumat, 28 Juni 2019 / 09:50 WIB

Gayuh Satrio, Pecatur Bisu Tuli Peraih Medali Emas di Asian Para Games

GAYUH Satrio (23), pecatur disabilitas bisu tuli menunjukan bahwa keterbatasannya adalah kelebihannya. Usaha kerasnya mengantar sebagai jagoan catur bukan hanya di Indonesia, namun hingga kancah internasional melalui medali emas yang diraihnya di Asian Para Games 2018. 

Anak muda kelahiran, Rotowijayan, Yogyakarta tahun 1996 ini tidak pernah menginggalkan Yogyakarta,  kecuali saat dia sedang mengikuti kejuaraan. Gayuh cukup dikenal sebagai atlet catur disabilitas di kancah nasional maupun internasional. Namanya melejit saat prestasi demi prestasi dia ciptakan berkat usaha keras yang dia lakukan.

Gayuh mendorong dirinya sendiri untuk tidak jenuh. Ia menanamkan pada untuk melakukan suatu kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya dan masa depannya. 

Berkat kerja kerasnya, ia berhasil membawa dua emas dan dua perak dalam ajang Pon Peparnas (Pekan Paralimpiade Nasional) pada tahun 2016. Tidak hanya itu, dia juga telah mengalahkan lawan main caturnya di kancah internasional di Asian Para Games 2018. 

Gayuh berhasil mempersembahkan satu emas, satu perak dan satu perunggu untuk negaranya, Indonesia. Hal tersebut Gayuh dapatkan tidak semudah membalikkan telak tangan. Keberhasilan Gayuh tidak digenggamnya dengan mudah.

Gayuh pernah melewati masa sulit dan masa dimana dia harus berhenti pada kompetisi catur karena dia merasa kesulitan saat mengikuti kompetisi catur untuk umum.

Sebelumnya, dia pernah mengikuti kompetisi yang secara umum, dia punya track record yang bagus. Prestasinya juga tidak diragukan lagi, namun saat bermain, Gayuh membutuhan lampu yang sangat terang yang digunakan untuk pencahayaan. Adanya lampu tersebut mengganggu lawan mainnya, sehingga Gayuh memutuskan untuk berhenti dari catur umum.

Setelah berhenti, dia tidak memutuskan untuk sepenuhnya berhenti. Gayuh berupaya untuk tetap mengikuti catur dengan bergabung dan berlatih catur secara braille. Meskipun memakai braille, hal tersebut juga tidak mudah untuk dilakukan oleh Gayuh. Gayuh harus tetap tekun berlatih agar dia benar-benar bisa memahami.

Dalam menghadapi tantangan saat maju di kancah internasional, Gayuh tidak pernah absen untuk latihan setiap harinya. Penyandang disabilitas seperti dirinya membutuhkan waktu lebih lama untuk berlatih, kadang hingga enam jam lebih lama.

Gayuh sudah menekuni catur mulai dari kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Tidak hanya catur saja yang disukai oleh Gayuh. Pria 23 tahun ini juga pandai bermusik. Ia mengaku jika ia sebelumnya pernah belajar musik. Namun, karena keseriusannya dengan catur begitu kuat, maka ia hanya memfokuskan tenaga dan pikirannya hanya untuk berlatih catur. 

Pada akhirnya, kini namanya sudah menyatu dengan jajaran atlet yang membanggakan bangsa Indonesia. Bermodalkan percaya, Gayuh bisa berusaha secara maksimal jika dia adalah pecatur hebat sehingga dia selalu termotivasi untuk melakukan yang terbaik.

Kekurangan bukanlah hal yang bisa menghambat dalam meraih cita-cita. Kapasitas diri bisa dimaksimalkan apabila kita juga berusaha dalam rangka memenuhi cita-cita tersebut. Tidak ada yang tidak bisa dicapai jika percaya dan terus tekun latihan adalah hal yang sekarang dipegang teguh oleh Gayuh. Pada akhirnya jika dia bisa berhasil seperti ini, juga akan membanggakan kedua orang tuanya. (Ive)