DIY Editor : Danar Widiyanto Selasa, 25 Juni 2019 / 21:51 WIB

Kelebihan Pasokan, Harga Ayam Langsung 'Terjun Bebas'

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com - Dibalik terjangkaunya harga kuliner ayam bagi masyarakat, ternyata menyisakan cerita di kalangan peternak. Belakangan ini harga ayam anjlok yang membuat para peternak merugi. 

Pemicunya karena terjadi oversupply atau kelebihan pasokan ayam. Seperti penuturan seorang peternak ayam di Gunungkidul, Fardal (47) Dusun Gluntung Rt 15 Rw 03 Desa Patuk, Kecamatan Patuk.

Menurutnya, harga ayam hidup (livebird) saat ini mencapai titik terendah Rp 7.000/kg bahkan Rp. 6.000 perkilo. Padahal, harga pokok produksi (HPP) di tingkat peternak mencapai Rp 18.000/kg. Artinya, ada kerugian yang cukup besar, sehingga bikin para peternak merana. 

"Harga terakhir Rp 8- 10.000 ribu perkilo dan sempat 7 ribu juga. Kemarin masih ada Rp 7 ribu bahkan Rp 6 ribu perkilogram," kata Fardal ketika ditemui wartawan, Senin (25/06/2019).

"Padahal permintaan pasar stabil tapi karena stok ayam diberbagai peternak banyak membuat harga jadi turun. Harga jual ayam turun dari lebaran namun sebelumnya juga memang sudah turun. Sedangkan biaya pokok produksi dari peternak memakan Rp. 18 ribu perkilo,"sambungnya.

Untuk sementara, kerugian yang dialami bagi peternak mandiri lumayan besar. Apalagi kondisi seperti ini ayam hanya dijual Rp.10 ribu perkilo bahkan lebih murah.

Menurut Fardal, lebaran 2019 sudah menjual 3 ribu ekor ayam. Hasil penjualan lumayan tinggi sekitar 15 ribu perkilo. Setelah itu hingga saat ini penjualan ayam terus rendah. Kondisi harga ayam yang dibeli murah dari peternak kepada bakul pasar membuat peternak banyak merugi.

Karena merugi, kiranya ada 30 peternak di Dusunnya pada beralih pabrikan. Artinya mereka beralih bergabung menjadi mitra. Sehingga hasil penjualan peternak terbagi-bagi.

"Keuntungan ada dipedagang kerugian ada di peternak. Kalau bisa harapannya bakul sama peternak bisa sama sama untung. Rata rata peternak disini sementara off. Kalau kondisinya sudah stabil mungkin kembali produksi lagi," pungkasnya. (Ive)