Jateng Editor : Ivan Aditya Selasa, 25 Juni 2019 / 14:51 WIB

1.193 Hektar Sawah Tadah Hujan di Sukoharjo Puso

SUKOHARJO, KRJOGJA.com - Sebanyak 1.193 hektar sawah tadah hujan di empat kecamatan yang ditanami padi dalam kondisi puso. Tanaman padi mati akibat dampak kemarau yang menyebabkan sawah kekeringan. Akibat kejadian tersebut membuat petani mengalami kerugian besar karena gagal panen.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Dyah Rilawati, Selasa (25/06/2019) mengatakan, ada enam kecamatan yang memiliki sawah tadah hujan dengan jumlah luasan berbeda. Di Kecamatan Weru sawah tadah hujan seluas 463,00 hektar, Kecamatan Bulu 411,00 hektar, Kecamatan Tawangsari 25,00, Kecamatan Nguter 398,00 hektar, Kecamatan Bendosari 399,00 hektar, Kecamatan Polokarto 180,00 hektar. Total keseluruhan sawah tadah hujan ada sebanyak 1.876,00 hektar.

Sawah tadah hujan yang ada tersebut tidak semua ditanami tanaman padi oleh petani namun diselingi palawija. Tapi ada petani yang tetap nekat menanam padi hingga menyebabkan kondisi puso. Kondisi tersebut terjadi karena tanaman padi kekurangan air.

Sawah puso ditemukan di wilayah Kecamatan Weru seluas 684 hektar, Kecamatan Bulu 36 hektar, Kecamatan Nguter 144 hektar dan Kecamatan Bendosari 329 hektar. Total keseluruhan di empat kecamatan tersebut sebanyak 1.193 hektar.

Masing masing petani yang sawahnya mengalami puso menderita kerugian dengan nilai berbeda. Namun ditaksir mencapai Rp 3.530.000 per hektar untuk yang masih menanam manual. Sedangkan yang menggunakan mesin tanam kerugian mencapai Rp 2.980.000 per hektar.

Luasan sawah yang puso diperkirakan bisa berubah mengalami kenaikan karena kondisi cuaca sekarang semakin panas dampak kemarau. Akibatnya kekeringan akan semakin meluas di empat kecamatan tersebut. "Kerusakan tingkat berat sawah petani yang mengalami puso seluas 591 hektar dari total keseluruhan 1.193 hektar," ujarnya.

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo sudah menerima laporan sawah petani puso sejak April lalu. Luasan sawah puso semakin bertambah sampai Mei dan Juni. Petugas sebenarnya telah memberikan sosialisasi sekaligus peringatan pada petani agar mempercepat pola tanam padi disaat kondisi air masih mencukupi dan selagi musim hujan.

Sosialisasi juga diberikan petugas para petani sawah tadah hujan agar tidak memaksakan diri menanam padi saat musim kemarau datang. Namun ternyata petani tetap nekat dan berakibat tanaman mati akibat kekurangan air. (Mam)