DIY Editor : Ivan Aditya Selasa, 25 Juni 2019 / 10:35 WIB

Sultan Tegaskan Tak Ada Tol ke YIA

YOGYA, KRJOGJA.com - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, tidak ada pembangunan jalan tol menuju Bandara Internasional Yogyakarta (BIY) atau Yogyakarta International Airport (YIA) di Temon Kulonprogo.

“Nggak ada tol bandara, nggak ada,” tegas Sultan HB X.

Sekda DIY Gatot Saptadi mengungkapkan, Gubernur DIY sudah memberikan klarifikasi, sebetulnya beliau tidak menolak keberadaan tol di DIY. Namun jalan tol bukan merupakan bagian atau semata-mata kebutuhan infrastruktur bandara. Sebab keberadaan tol harus memperhatikan kepentingan daerah dengan menumbuhkan perekonomian rakyat maupun konsep-konsep pengembangan wilayah di DIY.

“Sebetulnya beliau tidak menolak, tetapi penumpang jangan keluar dari pesawat di BIY langsung menuju tol dan pergi ke Borobudur atau Solo. Gambarannya tidak ada tol yang menuju bandara seperti itu sehingga penumpang hilang dan tidak masuk ke DIY. Jalan tol penting, tetapi pengembangan perekonomian di daerah juga penting, sehingga harus ada win-win solution nilai tawar seperti trase, simpul keluarmasuk exit tol dan rest area dengan memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM),” ujar Gatot.

Gatot menyampaikan, sudah ada pertemuan Pemerintah Pusat dengan Gubernur DIY untuk memastikan trase tol yang akan melalui DIY. Sepertinya Pemerintah Pusat dalam hal ini Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyetujui usulan Gubernur DIY yaitu pembangunan jalan tol di DIY tidak melalui bandara yang berarti akan mengikuti jalur rel kereta api di sebelah Utara dari hasil laporan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY. Namun Gatot mengaku belum melihat trase final jalur tol yang akan melintasi DIY tersebut.

“Saya mengirim Kepala Dinas PUPESDM DIY dengan bekal arahan Pak Gubernur. Dulunya rencana pembangunan jalan tol di DIY tersebut konsepnya lewat Selatan, tetapi Pak Gubernur jelas tidak setuju. Tol tersebut akan langsung gabung dengan Jalan Tol Yogyakarta-Bawen, jadi tidak lewat kota dan BIY/YIA. Jalurnya dari Bawen (Semarang)-Karangtalun (Ngluwar/Kulonprogo)-Selokan Mataram (Sleman)-Manisrenggo (Klaten)- Solo, sehingga lewat DIY sisi Utara. Kemudian jalan tol dari simpul Ringroad akan langsung diarahkan ke Cilacap via Purworejo,” terangnya.

Pemda DIY akan mengembangkan kawasan Selatan dengan adanya Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, KEK Industri Kreatif, Outer Ringroad, Bedah Menoreh dan sebagainya. Jika ada tol di kawasan Selatan, justru dikhawatirkan akan menghambat pengembangan kawasan Selatan tersebut. Untuk itu, Gubernur DIY sudah menegaskan demi kepentingan pengembangan kawasan Selatan tidak perlu jalan tol tetapi bisa memanfaatkan jalan nontol yang sudah ada seperti JJLS, Jalan Daendels, Outer Ringroad dan sebagainya.

“Konsep trase jalan tol itu harus terintegrasi sehingga perencanaannya sudah terintegrasi, tetapi realisasi pelaksanaannya tetap bertahap. Semisal Tol Yogya-Solo sudah terbangun, tetapi tol dari Yogya ke arah Cilacap belum terbangun tidak menjadi masalah, karena secara kerangka perencanaan jaringan jalan tol nasional harus tersambung, tidak lucu kalau sampai terputus di DIY,” tandas Gatot.

Selain menyoroti trase, exit tol atau keluar-masuknya tol juga menjadi perhatian tersendiri dan bagian kompromi Gubernur DIY ditambah dengan usulan titik rest area yang harus diamankan. Beliau bersikeras menolak jika pembangunan jalan tol tidak bisa menghidupkan aktivitas perekonomian sehingga simpul-simpulnya harus diarahkan ke pusat perekonomian daerah dan rest area diisi dengan produk-produk UMKM daerah.

“Adanya tol justru menyelesaikan permasalahan ekonomi di DIY, sehingga jangan dipertentangkan. Jalan tolnya tetap ada dan perekonomian daerah tetap hidup,” tandas Gatot. (Ira)