Kisah Inspiratif Editor : Danar Widiyanto Minggu, 23 Juni 2019 / 14:50 WIB

Ini Dia Syaiful Asnawi, Atlet Paralimpik Andalan Bruno

NAMANYA Syaiful Asnawi, usianya 30 tahun. Pria warga RT 02 RW 05 Desa Brunorejo Kecamatan Bruno tidak seperti orang kebanyakan. Bang Ipul, sapaan akrabnya, adalah penyandang disabilitas. 

Namun jangan salah, kekurangan justru menjadi kelebihannya. Semangatnya pantang surut, Bang Ipul tidak malu dengan kondisinya. Ia meneguhkan diri menjadi atlet dan bergabung dalam National Paralympic Committee (NPC) Kabupaten Purworejo.

Ipul adalah atlet andalan Kecamatan Bruno. Tubuhnya tidak sempurna, namun dua kakinya begitu kokoh menopang dirinya. "Tangan kiri saya tidak sempurna, tapi saya kuat, saya berlaga pada cabang atletik," ungkap Syaiful Asnawi, kepada KRJOGJA.com, Minggu (23/6/2019). 

Sebagai atlet Bang Ipul berlatih bersama NPC Purworejo di GOR WR Supratman. Namun ia harus pandai membagi waktu. Pasalnya untuk menghidupi keluarga, pria itu bekerja sebagai pelayan di warung kompleks Pasar Cepedak.  

Tugasnya berat, melayani pelanggan dan mengantar barang dagangan ke rumah atau warung konsumen. "Tugas saya antar barang pakai motor, memang agak sulit, tapi ditekuni setiap hari akhirnya sudah biasa," terangnya.  

Kejurprov Jawa Tengah untuk Paralimpik yang diselenggarakan di Solo beberapa hari lalu menjadi ajang pembuktian pemuda Bruno itu. Ia bersaing dengan puluhan atlet lain pada beberapa mata lomba atletik. 

Asnawi pun berhasil menorehkan prestasi. Ia meraih medali perak untuk cabang lompat jauh. "Memang belum dapat emas, namun sudah saya syukuri," tegasnya. 

Dalam waktu dekat Bang Ipul jadi salah satu wakil Purworejo dalam kejurnas paralimpik di Papua tahun 2020. Ajang besar yang akan menjadi pembuktiannya sebagai atlet andalan Purworejo. "Saya harus giat berlatih, saya harus bisa dapat medali," katanya. 

Namun Asnawi terkendala akses dan ekonomi. Tempat latihan di GOR WR Supratman tidak mudah dijangkau Asnawi yang hanya buruh di warung kecil. "Saya harus pinjam motor saudara, biaya operasional ditanggung sendiri. Sayangnya di Bruno tidak ada tempat latihan lompat jauh, coba kalau pemerintah memfasilitasi, saya bisa berlatih dan membagi waktu untuk bekerja," paparnya.    

Menurutnya, medali kemenangan memang target, namun bukan juga tujuan utama. Kiprah pada bidang olahraga, katanya, lebih untuk pembuktian diri bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang meraih kesuksesan. 

Padahal keterbatasan itu yang kadang disuarakan sebagai penghalang kesuksesan bagi sebagian penyandang disabilitas. "Kuncinya adalah kita harus bisa membangun kepercayaan diri, caranya bersikap terbuka dan jangan malu dengan keadaan. Selalu pegang prinsip bahwa butuh usaha untuk maju dan terus semangat meraih mimpi," tandasnya.(Jas)