Jateng Editor : Danar Widiyanto Minggu, 23 Juni 2019 / 15:31 WIB

Musim Kemarau Datang, Petani Sawah Tadah Hujan Andalkan Air Sumur Pantek

SUKOHARJO, KRJOGJA.com - Sejumlah petani sawah tadah hujan mulai mengambil air untuk suplai sawah tadah hujan agar tanaman padi tetap hidup melalui sumur pantek. Kondisi tersebut terjadi karena faktor musim kemarau. Petani rela mengeluarkan biaya ekstra untuk sewa alat dan beli bahan bakar agar tetap bisa panen. 

Salah satu petani sawah tadah hujan Bagyo asal Desa Gonilan, Kecamatan Kartasura, Minggu (23/6/2019) mengatakan, terpaksa mengambil air dengan cara menyedot menggunakan mesin disel dari sumur pantek untuk mengaliri sawah. Cara tersebut dilakukan karena kebutuhan air tidak terpenuhi seiring datangnya musim kemarau. Air sama sekali tidak ada dan sawah mongering saat kemarau datang. Sebab sebelumnya air sepenuhnya mengandalkan dari hujan. 

Air diambil dari sumur pantek setiap tujuh hari sekali agar kebutuhan selama tanam padi terpenuhi. Meski begitu penyedotan air bisa berubah disesuaikan dengan kebutuhan. 

“Mesin disel sewa dari kerabat dengan harga hanya separuh saja sekitar Rp 150 ribu sekali pakai dan bahan bakar sekitar 150 ribu – Rp 200 ribu. Itu biaya ekstra harus saya keluarga untuk mengaliri sawah agar tanaman padi tetap hidup,” ujarnya. 

Bagyo mengaku meski mengeluarkan biaya ekstra namun tetap dilakukan dengan harapan bisa tetap panen padi. Sebab saat musim kemarau tetap menanam padi dan tidak menggantinya dengan palawija. 

“Saya tetap pilih tanam padi dengan harapan hasil panen baik karena kondisi cuaca panas. Mudah mudahan juga tidak ada serangan hama. Kemarin tikus sempat menyerang namun sekarang sudah berkurang,” lanjutnya. 

Petani sawah tadah hujan asal Desa Purbayan, Kecamatan Baki Slamet mengatakan, memiliki dua petak sawah tadah hujan. Satu petak ditanami padi dan satu lagi semangka. Meski beda jenis tanaman namun Slamet mengaku tetap mengandalkan sumber air dari sumur pantek. 

“Untuk tanaman padi sudah berusia sekitar 40 hari dan tanaman semangka sudah panen dan mau saya ganti tanaman padi. Semua kebutuhan air saya ambil dari sumur pantek saat kemarau. Sebab sebelumnya bergantung pada hujan,” ujarnya. 

Slamet mengaku, untuk kebutuhan pengairan sawah beruntung sudah memiliki mesin disel sendiri. Dengan demikian maka bisa berhemat biaya dan cukup mengeluarkan uang untuk membeli bahan bakar saja. 

“Karena sawah saya ini merupakan sawah tadah hujan maka saya pilih belim mesin disel sendiri. Sebab kalau terlalu lama sewa alat maka beban biaya semakin besar,” lanjutnya. (Mam)