DIY Editor : Danar Widiyanto Rabu, 19 Juni 2019 / 23:55 WIB

Waspada Hoax, Dorong Masyarakat Bijak Manfaatkan Teknologi

BANTUL, KRJOGJA.com - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY menggulirkan program sosialisasi diseminasi konten positif di Balai Desa Trirenggo Bantul, Rabu (19/6/2019). Kegiatan tersebut mengambil tema 'Cerdas Menyikapi Hoax dan Pemberitaan di Era Milennial'.   

Hadir sebagai narasumber Kepala Dinas Kominfo DIY, Ir Rony Primanto  Hari MT, Ketua Presidium Masyarakat Anti Fintnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho ST MSc serta Kasubdit V/ Siber Ditreskrimsus Polda DIY, AKBP Yulianto BW.

Kepala Dinas Kominfo DIY, Rony Primanto Hari mengatakan,  tujuan dari program itu ialah, meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pemanfaatan media sosial pada  sejumlah aspek. Termasuk memahami penggunaan internet secara positif untuk meningkatkan kapasitas pribadi dan masyarakat.  Selain itu, program tersebut untuk memahami tatacara dan aturan terkait dunia maya dan media sosial yang sehat   dan bermanfaat.  

“Dalam memanfaatkan medsos itu sudah diatur dalam UU Nomor 19 tahun 2016  Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik  (UU ITE),” ujar Rony.

Diskominfo DIY terus mendorong masyarakat di Yogyakarta memanfaatkan teknologi untuk kepentingan positif.  Artinya warga di DIY sekarang ini mestinya lebih produktif dengan pesatnya perkembangan teknologi.  

“Sekarang  masyarakat dengan mudah bisa memiliki perangkat canggih. Tetapi persolannya tidak diikuti pengetahuan  dan pemanfaatan, sehingga  yang terjadi adalah pemanfaatan   gadget yang tidak benar. Sehingga mudahnya tersebarnya berita hoax yang resahkan msayarakat,” jelasnya. Oleh karena itu Diskominfo DIY kerjasama dengan berbagai pihak memberikan pemahaman agar teknologi dapat menujang kegiatan produktif yang berorientasi meningkatkan kesejahteran.

Kasubdit V/Siber Ditreskrimsus Polda DIY  AKBP Yulianto BW   minta agar masyarakat lebih cerdas dalam menyikapi berita  bohong.  Jika tidak hati-hati dan bijak dalam memanfaatkan teknologi  bisa berakibat fatal. Bahkan busi dijerat dengan UU ITE dan bisa dihukum 6 tahun dan 12 tahun.

“Sudah begitu banyak korban hoax, setiap hari ini ada 5-8 orang jadi korban penipuan online. Mulai dari anak SMP hingga intelektual jadi korban penipuan online,” ujar Yulianto.  Oleh karena itu setiap kali menerima pesan harus disaring dan perhatikan. "Jangan sembarangan memposting ke medsos, jika tidak tepat bisa masuk penjara," ujarnya. Bahkan korban penipuan sering menimpa kalangan intelektual.  Selain itu Polda juga terus berusaha agar masyarakat tidak menjadi korban penipuan online.

Ketua Presidium Masyarakat Anti Fintnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho ST MSc  mengatakan, jika banyak masyarakat itu hanya suka pada berita yang disukai. Padahal informasi tersebut belum tentu benar. “Mencegah konten negatif di medsos dengan cara mengendalikan diri, hati-hati dengan judul provokatif, cek sumber, jika di medsos ada infomasi tidak ada sumbernya jangan dipercaya,” jelas Eko.(Roy)