DIY Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 19 Juni 2019 / 20:22 WIB

Lima Inovator Muda UGM Ciptakan Bano, Tingkatkan Produktivitas Perikanan


SLEMAN, KRJOGJA.com - Semakin tinggi kadar oksigen dalam air, maka ikan akan semakin aktif bergerak dan lapar. Alhasil, dalam budidaya hal tersebut tentu menguntungkan karena berdampak pada produktivitas dan mempersingkat waktu panen.  Alasan itu yang melandasi lima inovator muda UGM yakni Azellia Alma Shafira (Manajemen 2016), Muhammad Adlan Hawari (Elektronika dan Instrumentasi 2015), dan Fakhrudin Hary Santoso (Perikanan 2015) serta alumni Teknik Mesin 2014 yaitu Katya Dara Ozzilenda Soegiharto dan Ryan Wiratama Bhaskara untuk mengembangkan sebuah alat bernama Banoo. 

Banoo sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti air. Menariknya, Banoo yang merupakan sebuah alat pendeteksi sekaligus meningkatkan kadar oksigen dalam air berbasis Internet of Think (IoT). Tujuannya yakni membantu para peternak ikan untuk mewujudkan panen lebih maksimal dan keberlanjutan perikanan sendiri. 

Ketua tim pengembang Banoo, Azellia Alma Shafira mengungkap inovasi yang mereka kembangkan berawal dari keprihatinan melihat kondisi budidaya perikanan di Indonesia yang belum maksimal. Menurut dia, sistem budidaya ikan yang masih konvensional dan ekstensif tak cukup menangkap potensi perikanan Indonesia.

“Inovasi teknologi Banoo ini bisa membangun ekosistem budidaya perikanan yang lebih efisien, intensif dan inklusif sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan para petani ikan. Banoo kami ciptakan memanfaatkan IoT melalui sensor yang bisa mengaktifkan microbubble generator untuk meningkatkan jumlah oksigen terlarut dalam air sehingga pertumbuhan ikan dapat dipercepat, memperpendek masa panen dan meningkatkan hasil panen ikan,” ungkapnya Rabu (19/6/2019). 

Banoo memiliki keunggulan dan dapat menjangkau berbagai daerah lantaran menggunakan sumber energi terbarukan dari panel surya. Dengan begitu alat ini dapat digunakan di seluruh Indonesia, bahkan di daerah rural yang tidak memiliki akses listrik. 

“Untuk pompa mesin sendiribmenggunakan daya yang rendah sebesar 85 watt untuk menghemat konsumsi listrik. Cara kerjanya sensor akan mendeteksi fluktuasi kadar oksigen, kalau turun microbubble akan hidup secara otomatis dan kalau sudah memenuhi standar oksigen dalam air maka akan mati,” sambung dia. 

Salah satu tim lainnya, Fakhrudin mengatakan sat ini mereka terus melakukan pengembangan alat yang telah dikembangkan sejak tahun 2018 lalu. Penambahan fungsi alat jadi salah satu yang dikejar termasuk untuk deteksi tingkat keasaman air (pH).

“Kita terus kembangkan alat ini dan harapannya dengan Banoo petani ikan dapat secara mandiri memperoleh sumber pangan dan mata pencaharian yang berkelanjutan,” pungkasnya. (Fxh)