DIY Editor : Agus Sigit Rabu, 19 Juni 2019 / 14:49 WIB

Rekonsiliasi Nasional Bisa Berawal dari Jogja

YOGYA, KRJOGJA.com - Pemilu Serentak 2019 sudah usai. Saatnya seluruh elemen bangsa Indonesia meninggalkan risidu-risidu pemilu untuk kembali menguatkan kohesi sosial dan membangun jembatan islah politik (rekonsiliasi).

Dosen Departemen Ilmu Politik dan Pemerintahan, Fisipol UGM, Dr Mada Sukmajati mengatakan, Pilpres 2019 sangat dinamis disebabkan maraknya politik identitas selama kampanye. Selain itu berkembangnya berita bohong (hoax) dan meluasnya ujaran kebencian. "Isu-isu tersebut berkembang terutama melalui media baru (new media)," kata Mada dalam Dialog Budaya dan Gelar Seni 'Yogya Semesta' seri ke-118 di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY, Selasa (18/6) malam.

Dialog kali ini mengangkat tema 'Rekatkan Kembali Kohesi Sosial, Bangun Jembatan Islah'. Selain Mada Sukmajati narasumber lainnya yaitu Pemuka Masjid Jogokariyan Yogyakarta Kiai Muhammad Jazir ASP dan Ketua DPD Partai Demokrat DIY Heri Sebayang dipandu moderator Pengasuh Komunitas Budaya 'Yogya Semesta' Heri Dendi dan MC Martha Sasongko. Dialog dimeriahkan Wayang Ringkes lakon 'Rukun Agawe Santoso, Crah Agawe Bubrah' oleh Dalang Ki Catur Benyek Kuncoro diiringi karawitan Komunitas Seni 'Kecubung Sakti' Bantul.

Menurut Mada, untuk membangung rekonsiliasi nasional, bangsa Indonesia punya dua jalur yaitu jalur elit politik dan jalur berbasis komunitas. "Masyarakat kita masih punya toleransi yang tinggi dan masih bisa menahan diri. Kalau elit menahan diri melakukan rekonsiliasi, masyarakat bisa mengawalinya, dari Yogyakarta untuk Indonesia," ujarnya.

Jazir ASP mengatakan, untuk melakukan rekonsiliasi nasional, bangsa Indonesia punya dua momentum yaitu Idul Fitri dan 17 Agustus. Menurut Jazir, pendekatan personal saat Idul Fitri lebih kuat dibanding pendekatan politik. Sedangkan saat 17 Agustus, narasi 45 seperti rela berkorban, persatuan dan kesatuan serta kesetiakawanan sosial harus dimunculkan. "Yogya punya tokoh budaya yaitu Sultan HB X yang tidak terjebak polarisasi. Modal yang dimiliki Yogyakarta ini bisa menjadi modal nasional untuk terwujudnya rekonsiliasi nasional," tuturnya.

Heri Sebayang mengatakan, jajaran elit politik di pusat sangat mempengaruhi iklim perpolitikan di akar rumput. Oleh karena itu keteladanan yang ditunjukkan para elit politik dengan menjalin komunikasi sangat dibutuhkan untuk mendinginkan suasana. "Elit politik jangan provokatif dalam bernarasi sedangkan masyarakat di level bawah juga harus mengedepankan kedewasaan dalam berpolitik," ujarnya.

Sedangkan Heri Deni mengatakan, Menghadapi hangatnya iklim perpolitikan sekarang ini, Pepatah Jawa mengajarkan 'Ngeli tanpa keli', menghanyut tapi tidak ikut terhanyut. "Artinya kita yang berada di daerah, baik yang bersimpati kepada 01 ataupun 02, keduanya sangat terbuka untuk bersama-sama memasuki gerbang islah kultural," ujarnya. (Dev)