DIY Editor : Ivan Aditya Minggu, 16 Juni 2019 / 08:30 WIB

Sashikirana Usung Genre Baru Jaranan Dangdut

NAMA Sashikirana sudah tak asing lagi di seantero panggung dangdut Semarang Jawa Tengah. Paras cantik dan penampilan yang seksi merupakan magnet tersendiri untuk menghipotis pecinta dangdut Kota Atlas. Dengan genre baru dalam bermusik yang diusungnya, Sashikirana menggabungkan dangdut dengan gaya etnik. Sashikirana menyebutnya aliran itu sebagai Jandhut alias Jaranan Dangdut.

Sashikirana bisa dikata pendatang baru dalam dunia hiburan dangdut Yogya, ia sendiri mengakui itu. Baru setahun lalu pedangdut bernama asli Sashikirana Wulan ini melakukan ekspansi dengan menginjakkan kakinya di panggung hiburan Yogya. 

Namun jangan tanya, di kota asalnya Semarang nama Sashikiran telah cukup tenar. Itu bisa dimaklumi karena pedangdut berbodi sintal ini hampir 12 tahun malang melintang bermusik dangdut di sana, bahkan sampai-sampai ia memiliki fans fanatik sendiri.

“Sebenarnya Sashi tidak begitu terkenal sih di Yogya, karena lebih sering manggung di Semarang dan Megelang. Belakangan saja baru mulai sering ke Yogya karena dapat job menyanyi di sini,” ungkap Sashikirana.

Pedangdut yang pada bulan Desember nanti usianya genap 25 tahun ini merasa penasaran ingin menaklukkan panggung dangdut Yogya. Karena bagi kalangan biduan dangdut sudah menjadi rahasia umum jika kota ini merupakan tempat awal untuk meniti tangga popularitas.

Cewek yang mengidolakan Chef Juna tersebut mengungkapkan, Yogya merupakan gudangnya musisi handal dan kreatif. Berbagai aliran musik bisa bertemu di sini, bahkan tak jarang dua aliran berbeda bisa bertemu dalam satu panggung.

Namun yang paling membuat Sashikirana semakin tertantang yakni kota ini memiliki para pecinta dangdut yang ‘militan’. Panggung-panggung hiburan yang selama ini dijajakinya tak pernah sepi dan selalu dipadati penonton.

“Yogya itu istimewa banget, geliat musik dangdut sangat terasa di kota ini. Musik dangdut bisa diterima di mana saja, mulai dari panggung hajatan pernikahan sampai di kafe-kafe maupun hotel,” jelasnya. 

Alasan itu pula yang mendorong Sashikirana ingin memperkenalkan gendre musik Jandhut di kota ini. Jandhut menurutnya terbilang baru dan belum banyak dikenal baik bagi pedangdut itu sendiri maupun para pecinta dangdut lokal Yogya.

Masih dalam irama dangdut, Jandhut menurut Sashikirana menggabungkan musik etnik di dalamnya. Dengan alunan yang lebih slow, vokal seorang penyanyi akan lebih terdengar dan tak tenggelam dalam hentakan kendang maupun bunyi seruling.

“Jadi untuk genre dangdut dipadukan irama Jaranan biar unik dan pendengar dapat lebih menikmati suara penyanyi dari pada musik pengiringnya. Masih sama kok dengan dangdut, hanya ini tambahan musik etnik agar lebih menarik,” jelas pedangdut yang juga pernah menggeluti musik campur sari ini.

Di daerah asalnya Sashikirana sukses membawakan Jandhut dari panggung ke pangung. Justru Jandhut menurutnya kini tengah digandrungi karena musiknya yang cenderung ‘easy listening’. 

Keberhasilan Sashikirana dengan Jandhut tersebut akan dibawanya ke Yogya. Sashikirana juga berencana memboyong orkes dangdut Lavista besutannya itu untuk menjadi pengiring sekaligus pionir Jandhut di kota ini.

“Ini yang ingin Sashi bawa untuk menambah warna musik dangdut yang selama telah ada. Jadi penggemar musik dangdut akan lebih tahu jika dangdut tak sebatas itu-itu saja,” kata Sashikirana.

Ia optimis cara bermusik dangdut ala genre yang diusungnya itu bakal mampu mendapat hati para penggemar. Bahkan jika juga berencana akan berkolaborasi dengan musisi maupun penyanyi dangdut untuk membawakan dangdut dalam versi Jandhut. (Van)