DIY Editor : Ivan Aditya Minggu, 16 Juni 2019 / 04:15 WIB

KEK Piyungan Mulai Beroperasi

YOGYA, KRJOGJA.com - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Piyungan segera direalisasikan dan mulai beroperasi, hanya tinggal menunggu perjanjian sewa tanah. KEK Piyungan ini digadang-gadang mampu menyerap tenaga kerja di DIY seoptimal mungkin dan memudahkan eksportir dalam mengirimkan barangnya.

“KEK Piyungan sudah mulai bergerak, tinggal menunggu perjanjian sewa tanah. Jika legalitas dan persyaratan 17 dokumen itu sudah selesai, semua jalan. Sekarang saja sudah jalan operasionalnya,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Budi Wibowo.

Budi mengaku telah menerjunkan 90 orang pelatih di 40 desa di kawasan tersebut usai lebaran ini. Upaya tersebut merupakan wujud strategi rill menyasar rumah tangga miskin di tengah-tengah masyarakat. Salah satu anggota rumah tangga miskin itu harus bisa bekerja di KEK Piyungan guna menambah pendapatan sehingga tidak miskin lagi.

“Yang baru kita dekati rumah tangga miskin tersebut, mereka harus menerima pendapatan dan melepaskan dari status miskin. Jika sudah lepas status miskinnya, mudah-mudahan perusahan bisa menanggung hak-hak mereka yang selama ini mereka dapatkan sebagai warga miskin,” tandasnya.

Budi berharap dengan mengoptimalkan serapan tenaga kerja dari warga ini bisa ikut membantu mengurangi jumlah rumah tangga miskin di DIY. Bahkan, ibu-ibu rumah tangga bisa dikaryakan dan diberdayakan untuk home industri kerajinan sebelum dikirim ke KEK Piyungan. KEK Piyungan ini bakal memproduksi setidaknya 100 kontainer perbulan nantinya.

“Mereka tidak membatasi jumlah pekerja yang akan diserap, semua bisa diberdayakan dan dikerjakan di rumah masing-masing. Karena KEK Piyungan itu hanya untuk finishing sebelum dikirim ekspor via Semarang,” ujarnya.

Mantan Asekda Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY tersebut berorientasi agar produk-produk kerajinan DIY bisa masuk di KEK Piyungan agar semua perizinan masuk di situ dan tidak perlu di Semarang. Hal ini akan memudahkan pihak eksportir mengekspor produk via Semarang.

“Kerajinan merupakan sektor unggulan ekonomi kreatif di DIY yang mayoritas handmade tidak manufaktur dan tidak banyak menggunakan mesin dan robot,” ujar Asekda Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Tri Saktiyana.

Menurutnya, pelaku usaha yang banyak dilibatkan dalam KEK tersebut adalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ekonomi kreatif. Sistem plasma bisa diterapkan di mana para pekerja bisa bekerja di rumah kemudian produknya disetor atau dikumpulkan.

Kehadiran KEK tersebut mempunyai berbagai keuntungan terutama bagi UMKM karena tingkat efisiensinya tinggi dan harga produk menjadi kompetitif. “Jika harga produk UMKM di DIY menjadi kompetitif, pasar akan semakin luas. UMKM sendiri lebih leluasa dalam mengembangkan desain ataupun menyesuaikan dengan permintaan pasar. Produk-produk kerajinan di DIY selama ini mempunyai kecenderungan mempunyai nilai jual tinggi meskipun tonase atau volumenya kecil,” pungkasnya. (Ira)