Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 14 Juni 2019 / 14:40 WIB

Tak Ingin Saingi PTKIN, Menag RI Lantik Rektor UIII

JAKARTA, KRJOGJA.com- Proses sampai pada babak baru. Hari ini, Menag Lukman Hakim Saifuddin melantik sebagai Rektor UIII periode 2019 – 2024 di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.

“Hari ini merupakan hari bersejarah . Kita baru saja melaksanakan pelantikan Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) yang pertama,” terang Menag di Jakarta, Kamis (13/06).

Pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) merupakan wujud pengejawantahan tiga hal yang saling berkaitan, yaitu Keindonesiaan, Keislaman dan Kemanusiaan. Harapannya UIII sebagaimana STAIN, IAIN dan UIN yang merupakan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di bawah naungan Kementerian Agama mampu berfungsi sebagai 'Rumah Moderasi Islam', tempat menghimpun, mengkaji dan mendesiminasikan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Hal tersebut dijabarkan Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin saat melantik Rektor UIII periode 2019-2024 Prof Dr Komaruddin Hidayat di Kantor Kementrian Agama Jakarta, Kamis (13/6). Menurut Lukman, momentum tersebut menjadi sangat bersejarah bagi peran Indonesia dalam menghadirkan pusat keunggulan ilmu pengetahuan Islam berskala internasional. 

"Rumah Moderasi Islam ini pada gilirannya akan memperkuat visi dan implementasi 'Moderasi Beragama' yang selama ini terus diperjuangkan dan sudah akan terintegrasi dalam RPJMN 2020-2024,” jelas Lukman.

Menag menegaskan, kehadiran UIII bukan sebagai kompetitor bagi PTKIN yang telah ada. UIII didirikan untuk memberi kontribusi bagi kehidupan kebangsaan dan keislaman serta agar Islam dapat menjadi sumber nilai, teladan dan inspirasi positif, rahmatan lil 'alamin, tidak saja bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi bangsa-bengsa lain di berbagai belahan dunia.

“Pendirian UIII sekaligus bertujuan memperkenalkan perkembangan Islam di Indonesia secara lebih ilmiah, sistematik, dan berkesinambungan kepada dunia internasional. Hal itu sejalan dengan tekad kita bersamatuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu kiblat pendidikan tinggi Islam dunia yang diharapkan menjadi cikal bakal berkembangnya Indonesia sebagai pusat peradaban Islam internasional yang moderat,” tuturnya.

Apalagi, lanjut Menag, untuk konteks Asia Tenggara, Indonesia merupakan kiblat lahirnya karya-karya klasik intelektual Islam yang ditulis dalam bahasa dan konteks lokal. Ini akan sangat penting sebagai rujukan dan referensi keilmuan para sarjana global. 

Keberadaan UIII diharapkan semakin mendorong peran Indonesia dalam memajukan pendidikan tinggi Islam dunia, serta berkontribusi lebih besar bagi pengembangan studi-studi Islam strategis kawasan, demi kepentingan ilmiah, perdamaian dunia, dan kemanusiaan. Ini merupakan cita-cita mulia, maka perlu dibuktikan dengan kerja keras.

“Saya sungguh berkeyakinan bahwa bukan mustahil UIII akan dapat tumbuh menjadi universitas yang ikonik, prestisius, dan terkemuka, serta mampu bersinergi dengan universitas-universitas besar dunia yang telah memiliki tradisi ilmiah yang kokoh,” tandasnya. (Feb)