Jateng Editor : Agus Sigit Rabu, 12 Juni 2019 / 20:48 WIB

Parade Sewu Kupat Kudus Bawa Pesan Damai

KUDUS, KRJOGJA.com - Parade Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria yang menandai tradisi puncak lebaran di kawasan wisata Taman Ria Desa Colo Kecamatan Dawe Kudus, Rabu (12/6)  berlangsung meriah. Sekitar enam ribu warga memadati tempat itu, tak hanya penduduk “Kota Kretek”, tetapi juga berasal dari luar daerah.

Parade sewu kupat kali ini agak berbeda dengan tradisi sama yang sudah 12 kali digelar sebelumnya. Tak hanya bertujuan nguri- nguri budaya kearifan lokal, peringatan kali ini mengambil tema lebih luas, ”Sewu Kupat untuk Indonesia Bersatu”.

Melalui kegiatan tradisi sewu kupat ini, diserukan pesan perdamaian dari lereng Gunung Muria untuk Indonesia yang situasi politik belakangan kurang kondusif. “Kami mengajak seluruh warga agar menjaga persatuan dan kesatuan, sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap tenteram dan damai,” ujar Bupati Kudus, Muhammad Tamzil dalam sambutannya.

Bupati juga meminta budaya yang ada ini dijaga kelestariannya sebagai bagian dari kehidupan. Bahkan pelaksanaan keguatan sewu kupat yang bersifat religi ini harus terus ditingkatkan kualitasnya. Pihaknya percaya dengan terus tergalinya potensi di setiap desa, akan terwujud kesejahteraan seluruh warga Kudus.  

Kegiatan parade sewu kupat di Desa Colo diramaikan pameran produk dan kuliner masyarakat setempat. Hadir dalam kegiatan kali ini Ketua DPRD dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) setempat, tokoh masyarakat dan agama, muspika dan seluruh kepala desa di Kecamatan Dawe.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Kasmudi mengatakan, tradisi sewu kupat dimulai pagi dengan pengumpulan kupat, lepet serta ampyangan (hasil bumi) yang dibentuk dalam sebuah gunungan, dan dilakukan doa bersama di Balai Desa Colo. Sebanyak  21 buah gunungan kupat dan lepet kemudian diarak dari makam Walisongo Sunan Muria menuju Taman Ria sepanjang 1,5 kilometer, sebelum dijadikan rebutan pengunjung.

Jika biasanya kegiatan hanya diiringi gending tembang Kidung Muria karya seniman Komunitas Aji Saka, kali ini penyelenggara menonjolkan lagu- lagu daerah pakaian adat Indonesia yang melibatkan sekitar 100 warga setempat. Keragaman itu memberikan pesan kebhinekaan tunggal eka, berbeda- berbeda tetapi tetap satu jua.

Parade sewu kupat ditutup penyerahan secara simbolis kupat ukuran besar dari Kepala Desa Colo Joni Awang Istihadi kepada Bupati Kudus Muhammad Tamzil, diringi lagu lir ilir yang menggetarkan jiwa. (Trq)