DIY Editor : Ivan Aditya Rabu, 12 Juni 2019 / 11:56 WIB

Penerapan Kawasan Pedestrian, Atmosfer Malioboro Harus Diperkuat

YOGYA, KRJOGJA.com - Penerapan kawasan pedestrian di Malioboro akan meningkatkan kapasitas ekonomi di kawasan tersebut. Karena akan lebih banyak ruang untuk bertemu, berinteraksi dan bertransaksi. Namun demikian transaksi hanya bisa terjadi jika akses pengunjung ke kawasan cukup mudah.

”Untuk itu beberapa strategi bisa diuji coba dan dievaluasi efektivitasnya. Antara lain sediakan shuttle yang menghubungkan ke kantong parkir dengan titik sekitar kawasan inti. Shuttle ini bisa dengan moda angkutan umum yang telah ada termasuk kereta api, namun harus dengan kemudahan transfer,” kata peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Dr Arif Wismadi.

Arif mengungkapkan, atmosfer Malioboro juga perlu diperkuat sampai sekeliling kawasan. Perluasan atmosfer akan memberikan sensasi kepada pengunjung saat di Malioboro, sehingga tidak perlu merasa harus masuk ke dalam kawasan dengan kendaraan. Pastikan konektivitas yang nyaman dengan variasi atraksi sampai ke kawasan inti.

Selain itu, batasi titik dropoff, jangan biarkan antarjemput di sepanjang jalan. Ubah sebagian titik yang saat ini digunakan untuk tempat atau kantong parkir sebagai titik antar-jemput. Hal itu perlu dilakukan, karena saat ini kemacetan yang terjadi di Malioboro, salah satunya adalah kemacetan semu, akibat melambatnya kendaraan penjemput, termasuk penjemputan angkutan online.

”Agar penerimaan retribusi yang sebelumnya dari parkir tidak menurun, maka fasilitas drop-off tadi bisa berbayar. Namun dengan nilai yang sangat terjangkau,” katanya.

Menanggapi rencana uji coba kawasan pedestrian Malioboro, beberapa kusir andong dan pengemudi becak menyambut positif. Mereka berharap dengan pemberlakuan kawasan pedestrian, pendapatan mereka dapat meningkat mengingat peluang mendapatkan penumpang lebih besar.

”Mudah-mudahan pendapatan kami bisa meningkat, karena kesempatan untuk melayani pengunjung atau wisatawan lebih besar. Kalau biasanya kan kami harus bersaing dengan kendaraan bermotor,” ujar Robin (27), kusir andong dari Prambanan.

Robin mengaku, jika ramai seperti saat libur Idul Fitri sehari bisa mengantongi Rp 500.000. Sementara Widodo, pengemudi becak kayuh yang biasa mangkal di Malioboro mengaku tidak mempersoalkan kebijakan tersebut. Yang penting tetap memperhatikan kepentingan rakyat kecil, termasuk pengemudi becak.

Sedangkan Paguyuban Pedagang Kakilima (PKL) Malioboro belum akan bersikap terkait rencana uji coba kawasan pedestrian tersebut. Menurut Ketua Lembaga Komunitas Kawasan Malioboro Rudiarto, konseptor kawasan pedestrian Malioboro seharusnya mempertimbangkan berbagai aspek sebelum rencana itu digulirkan. ”Jangan sampai rencana itu justru menjadikan kemunduran bagi industri pariwisata di kawasan Malioboro,” katanya. (Ria/Dhi/Ira)