Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Rabu, 12 Juni 2019 / 11:23 WIB

Masyarakat Diingatkan, Pelepasan Balon Udara Liar Bisa Dipidana

PEKALONGAN.KRJOGJA.com - Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Polana B. Pramesti kembali mengingatkan kepada masyarakat, agar tidak melepas balon udara secara liar. Sanksi tegas berupa hukuman pidana 2 tahun penjara dan denda Rp 500 juta bisa dikenakan kepada mereka yang kedapatan melepaskan balon udara liar tersebut.

"Pelepasan balon udara tradisional yang tidak ditambatkan memang membahayakan keselamatan penerbangan. Pasalnya, balon udara yang terbang tidak dikendalikan dapat mengganggu lalu lintas penerbangan," ujar Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Polana B. Pramesti dalam sambutannya yang dibacakan Plt Kepala Otoritas Bandar Udara (OBU) Wilayah III, Nathan Syahroni pada acara Java Traditional Balloon Festival 2019 di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (12/06/2019).

Selain itu, menurut Polana, tabrakan dengan balon udara juga mengakibatkan kerusakan serius pada mesin pesawat karena akan tersedot oleh mesin pesawat. "Apalagi kalau digantungi tabung gas yang akan membuat pesawat meledak di udara," ujarnya.

Polana menegaskan, Undang-Undang Nomor 1 tahun 2019 pasal 411 telah menyatakan sangsi, yaitu apabila balon udara tidak terkontrol dan membahayakan penerbangan, maka aparat akan tegas menangkap dan memproses. "Pelakunya dapat dikenakan hukuman maksimal kurungan 2 tahun dan denda Rp 500 juta," katanya.

Polana mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak atas terselenggaranya Java Traditional Ballon Festival ini yang merupakan tindak lanjut dalam melestarikan tradisi masyarakat menerbangkan balon udara tanpa mengganggu keselamatan dan keamanan penerbangan, khususnya di Pulau Jawa.

Untuk itu, seluruh pihak wajib mendukung kegiatan tersebut tidak terkecuali dari sektor transportasi, pihak keamanan, pengelola lalu lintas udara dan pemerintah daerah setempat yang dapat menjadikan festival balon udara ini sebagai agenda tahunan dan dijadikan objek potensi wisata sehingga menjadi salah satu unsur peningkatan perekonomian warga sekitar.

Festival ini juga merupakan apresiasi Pemerintah terhadap kreatifitas masyarakat terutama di Pekalongan dan sekitarnya yang mempunyai tradisi membuat dan melepaskan balon udara untuk menyambut Bulan Syawal. "Pemerintah sangat mengapresiasi tradisi masyarakat, termasuk kreatifitas dalam membuat balon udara yang berwarna-warni dan menarik," tambah Polana.

Direktur Utama AirNav Indonesia, Novie Riyanto menambahkan, festival ini merupakan yang kedua kalinya diadakan oleh AirNav Indonesia di Pekalongan dalam rangka menjembatani budaya masyarakat dalam menerbangkan balon udara tradisional dengan keselamatan penerbangan.

“Budaya masyarakat dan keselamatan penerbangan dapat berjalan harmonis, terbukti dapat dilihat pada hari ini masyarakat Pekalongan dan sekitarnya tetap melakukan budaya mereka menerbangkan balon udara untuk memperingati momen syawalan dengan cara ditambatkan," kata Novirianto.

Dalam penyelenggaraan festival tahun ini, AirNav Indonesia bersama Pemerintah Kota Pekalongan telah melakukan sosialisasi pada tanggal 20-24 Mei 2019. Antusiasme masyarakat dapat terlihat dari jumlah peserta yang berpartisipasi pada festival tahun ini. 

Tahun lalu total peserta di Pekalongan sebanyak 30 kelompok. Tahun ini, jumlah peserta meningkat drastis menjadi 105 kelompok. Hal ini merupakan hasil dari upaya sosialisasi yang cukup masif dilakukan oleh AirNav Indonesia bersinergi dengan Pemerintah Kota Pekalongan dan Komunitas Sedulur Balon Pekalongan yang merupakan komunitas yang mewadahi para pegiat balon udara tradisional di Pekalongan dan sekitarnya.

AirNav Indonesia menyiapkan beragam hadiah dan hiburan menarik dalam gelaran festival tahun ini. Total hadiah untuk peserta Java Traditional Balloon Festival 2019 mencapai Rp 70 juta ditambah berbagai door prize menarik baik untuk peserta maupun hadirin yang memadati Stadion Hoegeng. (Imd)