Peristiwa Editor : Ivan Aditya Selasa, 11 Juni 2019 / 19:44 WIB

Pengakuan Tersangka Rencanakan Bunuh Wiranto

JAKARTA, KRJOGJA.com - Kepolisian menayangkan pengakuan sejumlah tersangka yang diduga mendapat perintah untuk membunuh atau mencari eksekutor membunuh sejumlah tokoh nasional. Pengakuan itu ditayangkan dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/06/2019).

Dari delapan tersangka yang berhasil ditangkap terkait kasus rencana pembunuhan para tokoh, polisi menayangkan pengakuan tiga tersangka yang berperan sebagai calon eksekutor atau perencana pembunuhan. Mereka adalah HK alias Iwan, IR alias Irfansyah, dan TJ.

Ketiganya mendapat tugas membunuh atau mencari orang yang bisa membunuh tokoh nasional antara lain Menteri Polhukam Wiranto, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, Staf Khusus Presiden Jokowi bidang Intelijen Gories Mere dan Menko bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Satu target lain yang diburu adalah Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya.

HK adalah tersangka pertama yang pengakuannya ditayangkan. HK yang berdomisili di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, mengaku mendapat perintah dari Kivlan Zen mencari eksekutor membunuh Wiranto dan Luhut Pandjaitan.

Rencana pembunuhan ini bermula dari pertemuan HK dengan Kivlan di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada bulan Maret 2019. Dalam pertemuan HK mengaku diberi uang oleh Kivlan sebesar Rp150 juta untuk membeli dua senjata laras pendek dan dua senjata laras panjang. "Uang tersebut Rp150 juta dalam bentuk dolar Singapura langsung saya tukar di money changer," ujar HK.

Sebelum melaksanakan aksinya, HK lebih dulu ditangkap polisi. Dia ditangkap pada 21 Mei pukul 13.00 WIB terkait ujaran kebencian, kepemilikan senpi, dan keterkaitannya dengan Kivlan Zen.

HK saat ditangkap kedapatan membawa satu pucuk senjata jenis revolver kaliber 38 magnum dan amunisinya. Dalam tayangan video HK menyebut Kivlan sebagai senior yang dia hormati dan banggakan.

"Yang saya bawa memang untuk ke lokasi demo, tujuan saya untuk apabila menemukan massa tandingan dan membahayakan anak buah saya, maka saya akan bertanggungjawab, untuk mengamankan seluruh anak buah saya," ujar HK.

HK mengatakan senjata yang dimiliki didapat dari seorang ibu yang masih termasuk keluarga besar TNI. Senjata itu berhasil dia dapatkan dengan menjaminkan uang Rp50 juta.

"Sedangkan senjata mayer kaliber 22 dan ladies gun kaliber 22 saya dapat dari saudara Adnil. Yang mayer saya percayakan kepada saudara Armi, pengawal, ajudan, bapak Kivlan Zen dan satu lagi ladies gun saya percayakan kepada saudara Udin. Sesuai TO yang diberikan Pak Kivlan Zen, yaitu Pak Wiranto dan Pak Luhut," ujarnya menambahkan.

Eksekutor lain, IR alias Irwansyah mengaku dihubungi Armi dua hari setelah pencoblosan untuk bertemu Kivlan Zen di Masjid Pondok Indah. Keesokan hari dia mengajak Yusuf bertemu Kivlan di Masjid Pondok Indah. "Kami berangkat pukul 13.00 WIB keesokan harinya pakai mobil Ertiga," kata IR.

Setelah menunggu beberapa saat IR pun bertemu Kivlan. Dia melakukan pembicaraan empat mata di dalam mobil Kivlan. Di sana IR menyebutkan bahwa Kivlan mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan alamat dan foto Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.

Kivlan disebut IR meminta dirinya mengintai kediaman Yunarto tersebut. "Lalu beliau bilang 'saya kasih uang operasional Rp5 juta cukuplah untuk bensin, makan, dan uang kendaraan lalu saya jawab siap. Beliau bilang lagi 'kalau ada yang bisa eksekusi saya jamin anak istrinya dan liburan kemanapun'," kata IR. (*)