Jateng Editor : Ivan Aditya Selasa, 11 Juni 2019 / 18:43 WIB

Gunungan Ramaikan Syawalan dan Merti Desa Boja

KENDAL, KRJOGJA.com - Ratusan warga Boja Kendal saling dorong dan berebut gunungan hasil bumi dalam kirab budaya merti desa dan tradisi syawalan Selasa (11/06/2019) sore. Kegiatan Kirab budaya NyiPandansari atau Nyai Dapu sebagai bentuk penghormatan  kepada Nyi Pandansari yang merupakan tokoh penyebar agama Islam di wilayah Boja Kendal. Dalam waktu tidak lebih dari lima menit satu gunungan besar yang berisi hasil bumipun ludes.

Gunungan berisi hasil bumi sudah disiapkan Pemerintah Desa Boja untuk diarak keliling desa. Gunungan hasil bumi berupa sayuran dan buah-buahan ini merupakan bentuk syukur warga atas limpahan berkah dari sang pencipta.

Warga baik muda maupun tua saling dorong dan rela berdesakan untuk bisa mendapatkan hasil bumi yang diarak dalam tradisi syawalan dan Merti Desa Boja. Warga  hanya ingin mendapatkan berkah dari gunungan hasil bumi yang menggambarkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Panitia sendiri kewalahan untuk mencegah warga tidak berebut gunungan hasil bumi ini sebelum prosesi syawalan selesai. Namun warga yang sudah menunggu tidak sabar dan berebut sayuran serta buah-buahan yang ada di gunungan tersebut.

Sebelum diperebutkan warga  gunungan hasil bumi dikirab keliling kota , iring-iringan kirab budaya selain gunungan hasil bumi yakni pasukan pengawal Nyi Pandansari atau Nyi Dapu. Ratusan warga sendiri menunggu kedatangan  gunungan hasil bumi di depan komplek makam Sedapu di kecamatan Boja Kendal.

Menurut warga meski harus berdesakan dan saling berebut gunungan hasil bumi ini namun warga senang jika bisa mendapatkan sayuran atau buah-buahan walau sedikit. “Sayuran yang didapat akan dijadikan sayur dan disantap bersama keluarga. Harapannya dengan sayur dari gunungan ini kesejahteraan melimpah,” ujar Parni warga Boja.

Sementara itu makna dari kirab gunungan hasil bumi ini sebagai bentuk semangat warga untuk saling bergotong royong. “Kirab sendiri terdiri dari iring-iringan Nyai Pandansari yang menunggang kuda dan diikuti barisan pengawal berpakaian hitam dan putih serta prajurit perempuan. Nyai Pandasari yang juga adik kandung Ki Ageng Pandanaran ini  masih melekat di relung hati masyarakat Boja,” ujar Kepala Desa Boja, Slamet Riyadi.

Kirab menempuh jarak 5 kilometer ini membawa serta gunungan hasil bumi yang menggambarkan rasa syukur masyarakat Boja yang sudah diberi rejeki oleh sang kuasa. “Kirab ini sebagai bentuk tradisi tahunan masyarakat Boja untuk menghormati, leluhur penyebar agama islam di wilayah ini. Selain itu juga sedekah bumi dengan mengarak gunungan hasil bumi,” lanjutnya.

Camat Boja, Ripurwanto mengartikan gunungan hasil bumi sebagai rasa syukur warga atas limpahan berkah yang selama ini diberikan dari sang pencipta. “Ini sebagai bentuk syukur warga atas limpahan rejeki,” ujar Ripurwanto.

Salah seorang petugas Dinas Perhubungan Selo Salman yang ikut mengatur lalulintas mengatakan tradisi tahunan ini memang sempat membuat macet, namun hal tersebut wajar dan sudah diantiaipasi oleh petugas gabunag Dinas Perhubungan dengan Polsek Boja. “Ini acra tahunan dan kami ikut mengatur lalulintas agar tidak sampai macet,”ujar Selo.

Kepolsek Boja AKP Ibnu Suka menjelaskan sudah melakukan rekayasa lalulintas terhadapacara kirab budaya tersebut. “Karena ini sudah tradisi tahunan dan masyarakat sudah menyadari jika ada acara ini pasti terganggu namun tidak lama, karena acara hanya berlangsung dua tiga jam,”ujar Ibnu.

Usai kirab Sejumlah tokoh agama dan masyrakat Boja sendiri usai mengikuti kirab menggelar tahlil di makam Nyi Dapu. Tradisi syawalan di Boja ini merupakan agenda tahunan dan menjadi  wisata religi warga kendal dan sekitarnya. (Ung)