Olahraga Editor : Danar Widiyanto Minggu, 09 Juni 2019 / 15:30 WIB

PSIM dari Kacamata KR, 'Kehalusan Sikap Satria dan Priyayi'

YOGYA, KRJOGJA.com - Sejarah panjang ditorehkan PSIM Yogyakarta sejak berdiri tahun 1929 lalu. Berbagai masa silih berganti, berbagai angkatan pemuda pernah merasakan kebanggaan mengenakan seragam dengan lambang Tugu di dada. 

Harian Kedaulatan Rakyat (KR) menjadi saksi perjalanan tim PSIM dari masa ke masa yang begitu menarik untuk diingat kembali. Pun demikian bagi pandemen PSIM bisa memahami lebih jauh sejarah sepakbola Kota Yogyakarta yang jadi salah satu kiblat persepakbolaan nasional sebagai tempat berdirinya PSSI. 

Penggalan cerita menarik ditemukan dari pemberitaan KR yang ditulis wartawan saat itu, Briyanto Syarif tentang karakter PSIM yang tertuang dari berita tanggal 29 September 1986. Kala itu, PSIM hendak mengikuti Piala KR melawan dua tim lain yakni junior PSSI (timnas) dan lawan berat dari Divisi Utama, PSIS Semarang. 

Dalam berita tersebut, dituliskan bahwa PSIM mengusung percaya diri tinggi saat menjadi tuan rumah di Yogyakarta. Dua tim yang dilawan meski berstatus kualitas mumpuni tetap tak gentar dihadapi dengan materi pemain-pemain lokal. 

Dalam berita tersebut, satu dari tiga pelatih PSIM saat itu yakni Subagyo menyampaikan pernyataan bahwa timnya yang bermaterikan pemain-pemain lokal siap meladeni dua tim lainnya di Piala KR. Ia percaya bahwa anak-anak asuhannya mampu menunjukkan permainan apik di lapangan meski di atas kertas, timnas junior dan PSIS berada di atas mereka. 

“Ngomong apa saja, bukankah harus dibuktikan di lapangan? Jadi bagi PSIM, yang penting di lapangan itu,” ungkap Subagyo seperti dikutip dari KR edisi 29 September 1986. 

Dari kacamata KR pula melalui kutipan penulis dikatakan bahwa karakter tim PSIM dengan materi pemain lokalnya yakni bertekad baja, berpadu gabungan kehalusan satria dan sikap priyayi. Hal tersebut jadi modal utama PSIM memenuhi target di tahun tersebut yakni Juara Piala KR sekaligus menjadi tim yang masuk dalam jajaran Divisi Utama (setara Liga 1) PSSI. 

Di tahun tersebut, nama penyerang Melius Mau benar-benar diperhitungkan. Ia didaulat menjadi kapten bagi tim PSIM sekaligus penyerang maut yang ditakuti lawan. 

Gaya menyerang diperagakan dengan andalan formasi 4-2-4, 4-4-2 dengan kuartet penyerang Gunarto, Sutrisno, Haryadi dan Melius Mau. Gunarto dan Sutrisno disebutkan cerdik karena diposisikan turun sedikit sebagai gelandang melengkapi satu nama tukang pikul air PSIM, Edi Prapto. 

Dari berbagai sumber yang didapatkan KRJOGJA.com diantaranya dari beberapa saksi hidup para pemain, didapatkan pula susunan pemain yang menjadi andalan PSIM di musim tersebut. Penjaga gawang dihuni Siswadi Gancis, bek kanan Semi Supardji, bek kiri Suyatno, libero Maryono, stopper Susilo Harso, gelandang Edi Prapto, Syaiful, Bambang Haryanto dan Sutrisno. Sementara dua penyerang dipercayakan pada Melius Mau dan Haryadi.

Tak heran bila kemudian Stadion Mandala Krida selalu penuh sesak suporter saat PSIM berlaga. Tampaknya, tekad baja para pemain mampu menarik minat pandemen PSIM untuk menyaksikan Laskar Mataram beraksi. (Fxh)